Sabtu, 22 Agustus 2009

Mazmur 133

“Hidup yang rukun”

1. Mzm 133 merupakan nyanyian ziarah Daud. Inilah syair tentang kerukunan kekeluargaan dari umat Allah. Pokok ini dinampakkan dalam peristiwa berkumpulnya bangsa yang terpisah-pisah pada pesta ziarah.
2. Mazmur ini dinyanyikan untuk mengembangkan kebersamaan, kesetaraan dan solidaritas antar umat manusia. Melalui nyanyian ziarah ini, setiap umat diingatkan untuk hidup secara rukun dengan semua orang, dengan keinginan untuk berbagi, menyetarakan pendapat, ide dan pendapatan.
3. Dalam mazmur kebijaksanaan ini kerukunan antar saudara dikiaskan dengan minyak dan embun yang menyegarkan dan disamakan dengan berkat. Seorang Profesor di UGM yang kebetulan orang Batak pernah berkata, bahwa orang Batak yang dibulang-bulangi (dihormati) di negara ini adalah orang yang mempunyai kekerabata, persaudaraa (parhahamarangiaon) yang akrab, karib dan saling mendukung. Beliau mengibaratkan keluarga besarnya yang tidak maju dalam pendidikan, kekayaan dan jabatan ketika bapak mereka bertengkar dengan saudara-saudaranya; begitu keluarga itu berdamai, maka keturunan dari semua keluarga besar itu mengalami kemajuan yang luar biasa, baik dalam pendidikan, jabatan dan harta. Artinya, kerukunan mempengaruhi cara pandang orang dalam memaknai hidup, sekaligus berdampak baik bagi kemajuannya menjalani hidup.
4. Pemazmur menggambarkan berkat-berkat kesatuan dalam 2 cara, yaitu minyak untuk penahbisan para imam, yang bersimbol kesukaaan dan terikat dengan pengertian keharuman (kid 1,3) dan ketentraman (Yes1,6). Minyak pengurapan imam adalah seseuatu yang menyucikan (kel.30,22-33).
5. Alangkah baik dan indahnya....Kerukunan dalam marga selalu dipuji, karena akan mendatangkan berkat bagi marga tersebut. Kerukunan menyebabkan tidak terjadi perselisihan karena memperebutkan tanah dan ternak, karena orang yang rukun akan mengerjakannya secara bersama, bukan membagi. Itu sebabnya alam tradisi Jahudi, apabila lelaki bersaudara tinggal bersama dan kakaknya meninggal dunia tanpa meninggalkan anak laki-laki, maka saudara muda, wajib kawin ipar dan mengambil istri saudaranya untuk meneruskan nama dari kakaknya, sekaligus untuk memperhatikan kehidupan kakak iparnya.
6. Keindahan dari persaudaraan itu tidak hanya dalam bentuk sukacita, tetapi keikut-sertaan dalam setiap penderitaan antar saudara. (adong do akrab jala denggan parhahamaranggion, alai dang olo mersiurupan). Sebagaimana digambarkan Yesus tentang orang Samaria yang baik hati, yang peduli dan ambil bagian dalam penderitaan orang yang dirampok di tengah jalan. Dia meluangkan waktu menolong, memberi uang membiayai, bahkan menambah biaya jika ternyata kurang demi kesembuhan orang yang tidak dikenalnya, tapi dilihat sebagai sesamanya. ( Luk 10, 25-37: Epistel). Perbuatan orang samaria ini menjadi teladan bagi kita bersaudara dalam keluarga, punguan marga, gereja dan masyarakat di negara plural ini, karena hubungan yang baik pasti menyegarkan dan mendatangkan rasa nyaman dan sejuk antar saudara.
7. Di Timur Tengah kuno, minyak yang dicampur dengan rempah-rempah dan wangi dipakai untuk melicinkan dan menguatkan rambut serta memelihara kulit; seorang tamu disambut dengan menuangkan minyak di atas kepala atau diminyaki kakinya, sebagai tanda penghormatan. (bnd. Kaki Yesus yang diminyaki perempuan samaria dengan rambutnya.
8. Seperti minyak di kepala, mengalir ke janggut Harun, (dan para imam keturunannya) yang berjanggut panjang (Im. 21,5) mencerminkan pengertian ke arah imamat. Minyak adalah lambang penobatan dan janggut adalah lambang panjang umur, maka hidup yang rukun akan dinobatkan menjadi anak Allah, dan diberi kesegaran, kenyamanan, seperti kulit segar yang terpelihara dan umur panjang. Kelimpahan minyak urapan itu mengutarakan betapa Tuhan berlimpah-limpah memberkati dan menguduskan umatNya melalui perskutuan mereka.
9. berkat kedua: kesatuan digambarkan seperti embun yang menyegarkan, mengendap di gunung Hermon dan turun ke gunung Sion. Pemahaman utama ialah, embun mengungkapkan kesegaran ilahi; karunia Allah, yaitu kehidupan dan buah-buahnya (mzm 110,3), tapi pengaitan gunung Hermon (di kerajaan utara) dengan Sion di sebalah selatan menunjukkan bahwa Allah memberikan karuniaNya kepada umatNya apabila mereka berada dalam persekutuan. Turunnya embun Hermon ke Sion merupakan muzijat, dan persekutuan adalah mijizat anugerah ilahi (Ef 2, 11-22) di mana berkat pribadi saling dibagikan untuk keberuntungan bersama. Persekutuan dalam ay 3 inilah yang Allah senang memberkatinya dan itu menjadi bukti pemilikan kehidupan untuk selama-lamanya (bnd. 1 Yoh 3,14).
10. Embun yang turun dari gunung Hermon ke gunung Sion adalah kiasan tentang pemberian hidup yang baik. Secara geografis, Gunung Hermon (9100 kaki tingginya dan penuh salju) terletak di Libanon atau Utaranya Palestina, sedangkan Gunung Sion (gunung yang kering) terletak di selatan. Itu berarti, tidak mungkin embun dari gunung Hermon berhembus ke gunung Sion. Itu merupakan kiasan. Tetapi kalaun embun di gunung hermon berhembus ke gunung yang kering akan memungkinkan ladang dan pohon berbuah baik. Jadi embun menggambarkan sumber kehidupan. Jadi pemazmur hendak mengatakan hidup yang rukun bagaikan embun yang mendatangkan kehidupan yang baik. Kota Sion sebagai tempat kehadiran Tuhan menjadi tempat pelimpahan berkat Tuhan, yaitu hidup selama-lamanya.
11. Hidup rukun merupakan visi Tuhan bagi umatNya. Keharmonisan bagi persaudaraan menjadi pendorong dalam hidup rukun. Perbedaan identitas dan karakter bukan menjadi penghalang untuk hidup rukun, sebaliknya kesamaan identitas dan karakter tidak menjadi faktor mutlak terjaminnya kerukunan. Kita mempunyai karakter dan identitas yang berbeda karena pengaruh latar belakang pendidikan, sosial ekonomi, lingkungan dan genetika. Namun perbedaan tersebut tidak dapat menghalangi kerukunan kita, karena Yesus telah hadir untuk mempersatukan kita dalam darahNya seperti bacaan Firman Tuhan yang tertulis dalam Yohanes 17, di mana Yesus mengajarkan murid-muridNya agar:
• Mengasihi musush dan berbuat baik kepada yang membenci kita (Luk 6, 27-38)
• Merangkul orang yang tersingkir, bukan ikut menyingkirkan orang yang dibenci oleh satu kelompok
• Tidak berburuk sangka dan menghakimi orang lain (Luk 6, 7).
12. Tiga hal di atas dapat membantu kita menciptakan kerukunan di tengah hidup kita, baik dalam RT, persekutuan dam lingkungan masyarakat di mana kita tinggal dan bekerja. Oleh karena itu kita perlu menumbuhkan gaya hidup jemaat kristen, yaitu hidup yang inklusif, menghargai perbedaan masing-masing orang, koorporatif, mengakui kesalahan dan memuji apa yang benar, bersikap adil dan menjungjung perdamaian

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar