Jumat, 19 Februari 2010

1 Timoteus 6, 11-16 "Menjadi Teladan"

1. Dalam sebuah nama, ada harapan pemberi untuk masa depan pemilik nama tersebut. Ketika orang tua Batak memberi nama ‘lindung’ kepada anak, orangtuanya berharap, bahwa ‘lindung’ kelak dapat menjadi pelindung bagi keluarga, dll. Bagi orang Yahudi nama merupakan identitas keluarga. Namun, sering juga terjadi penyimpangan, diberi nama A, namun karakternya tidak sesuai dengan namanya. Maka memberi nama, selalu dibarengi doa dan harapan supaya namanya sesuai dengan karakternya.
2. Timoteus adalah hasil dari penginjilan Paulus, dan mengenalnya menjadi seorang kristen yang baik. Paulus menganggapnya sebagai anak rohani dan menyebutnya sebagai manusia Allah (man of God). Dengan sebutan itu, Paulus berharap bahwa Timoteus bisa menjadi pemimpin spritual dan teladan bagi orang percaya. Paulus ingig, Timoteus menjadi gambar dan banyangan Allah (man (person) of God : ay 11). Sebutan, sekaligus komitmen kepada Allah. Sebutan ini merupakan penghormatan tertinggi yang diberi Paulus kepada Timoteus. Ibarat seseorang yang menerima nobel, maka penerima nobel akan berjuang terus dengan penghormatan yang diterima. Dialah satu-satunya penyandang nama itu dalam PB, (bnd. Dalam PL: Musa dalam Ul 33,1; Daud dan Elia). Disamping panggilan khusus tersebut, diharapkan juga, dengan nama itu dia menunjukkan karakteristik seorang yang berhubungan dengan Tuhan, karena itu, perlu ada tindakan khusus yang menghasilkan buah-buah Roh (Gal 5,22-23). Disebut manusia Allah berarti tidak mengurus atau terikat pada masa lalu yang merusak, tidak menghabiskan waktu dengan pekerjaan iblis yang bertentangan dengan kekristenan, tetapi akan mengejar yang baik, yang berguna dan mendatangkan damai sejahtera, seperti keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.
3. Esensi dari pemimpn yang disebut manusia Allah adalah mengerjar hal-hal yang baik, yaitu :
• Dua tujuan umum sebagai karakteristik seseorang yang berhubungan dengan Allah yaitu,
- Keadilan : Dikaiosune, Suatu sikap umum untuk dapat berbuat secara adil, di mana memberi kepada manusia dan Allah apa yang menjadi hak masing-masing. Orang berbuat adil adalah orang yang menunaikan kewajibannya kepada Allah dan sesama. Keadilan adalah semua sikap dan tindakan menunjuk pada harmoni sesuai dengan panggilan Allah.
- Ibadah : Godliness, kesalehan, suatu sikap yang mengarahkan hidup pada Allah dalam suatu kesalehan dan ketundukan. Suatu kesadaran bahwa seluruh yang ada padanya bersumber dari Allah, maka tidak akan berhenti beribadah, menyembah yang mengasihinya. Karakter dan kelakuan menggambarkan citra Allah.
Kedua hal ini berkaitan dengan iman (pistis), yang seumur hidupnya, sampai ajal tiba akan selalu setia beriman kepada Allah.
• Dua sikap khusus tentang kehidupan kekristenan,
- Kasih : Kasih adalah sikap khusus dari orang kristen, di mana kepentingan diri tidak diutamakan demi kebutuhan orang lain. Tidak ada perbedaan kekristenan dengan orang yang dari dunia ini. Yang membuat orang kristen menjadi berbeda karena ada kasih (agape: memikirkan kepentingan orang lain), suatu kebajikan yang terus bertahan, walaupun dicobai tidak akan jatuh. Dicaci tidak membalas, tapi terus mengasihi hingga terluka.
- Setia : Bertahan dalam iman dan kebenaran. Cobaan dunia tidak membuat berpaling dari Allah, tidak meningkari iman di tengah banyaknya nikmat dunia. Suatu sikap yang terus menerus bertahan meski dalam keadaan yang merugikan. Kasih dan kesetiaan membuat manusia tetap mengingat bahwa Tuhan adalah sumber kehidupannya.
• Dua tindakan khusus dengan cara yang benar, dalam hubungannya pada dunia yang memusuhi. Bagian ketiga ini merupakan kebajikan yang berhubungan dengan perilaku kehidupan, yaitu,
- Kesabaran : Hupomone: kesabaran, tidak menjadikan kita diam menanti apa jawaban Tuhan, tetapi daya tahan dan daya juang untuk mencapai kemenangan. Kesabaran tidak berubah sampai tujuan tercapai walau mengalami kesengsaraan. Rasa lapar tidak membuat seorang yang sabar mencuri, tetapi akas setia dalam iman berjuang mencari sesuap nasi. Menurut penelitian, di amerika daya juang ini telah hilang, karena telah mudah meraih apa yang ada dihadapannya, tidak lagi punya tujuan yang lebih besar, sehingga tidak sabar dengan hal yang sulit. Mungkin kesabaran ini juga sudah hilang dari kekristenan, sehingga tidak ada tindakan khusus yang dilihat dunia dari kita. Menjadi teladan adalah impian Paulus melalui Timoteus, tetapi juga melalui masyarakat kristen saat ini, di mana penderitaan tidak menaklukkan orang kristen, tetapi terus bertahan sambil berjuang meraih berkat Tuhan.
- Kelembutan : Paupatheia :jiwa yang tidak pernah meledak menjadi kemarahan oleh kesalahannya sendiri, tapi juga mampu menahan amarah akibat kesalahan orang lain. Jiwa yang lembut tidak mampu melukai orang lain, mau mengampuni ketika dia terluka, tetapi juga tegas melawan segala ketidakbenaran. Jiwa yang rendah diri, tetapi bangga karena panggilan Kristus ada padanya.
Semua hal ini merupakan sebuah gambar dari banyangan manusia Allah. Timoteus sebagai manusia Allah akan melakukan segala karakter kekristenan, karena Dia adalah gambar dan banyangan Allah di tengah dunia yang memusuhi kekristenan. Bagaimanakah dengan kita?
4. Dunia ini penuh dengan roh-roh yang mencoba membawa kita pada hidup dunia. Paulus mengingatkan teman mudanya agar melakukan pertandingan iman, karena musuh yang melakukan pengejaran terhadap kekristenan dan menjadi penentang kekristenan adalah roh-roh dunia, yang tidak kelihatan. Perlu ada lompatan iman dalam melawan-melawan roh-roh dunia, yaitu dengan dengan teguh pada karakter kekristenan seperti yang diuraikan di atas, karena ke situlah kita dipanggil, panggilan pada kehidupan kekal. Pertumbuhan iman tidak otomatis, tetapi bagaimana kita meresponnya dengan melatih diri secara spritual dan disiplin, seperti berdoa, belajar firman, mengimani, dan taat. Dengan latihan yang terus menerus, pertumbuhan spritual akan semakin baik dan matang.
5. Kehidupan kekal adalah satu hal dari tujuan hidup manusia. Bukan kesementaraan, maka kita akan bertanding menentang setiap yang sementara, yang merusak perjalanan kita menuju kekekalan. Dunia bertujuan untuk yang duniawi, tapi kehadiranNya bertujuan untuk kekekalan (Yoh 10,10). Untuk mencapai tujuan hanya dapat dilalui melalui iman. Kekuatan kita menentang roh dunia, hanya dengan iman yang teguh. Dengan iman itu pulalah Timoteus dapat menyaksikan baptisannya dalam air lebih dari sebuah dogma.
6. Paulus menguatkan Timoteus untuk selalu setia dalam perjanjian yang dia saksikan di hadapan Allah yang benar dan jemaatNya, bahwa Allah yang memberi kehidupan pada semua yang hidup adalah Allah yang memberi kepenuhan baginya.
7. Tuhanlah yang memberi dan mempercayakan kita menjadi hamba-hambaNya di dunia ini, Dia juga yang memperlengkapi kita dengan karunia-karunia. Dialah satu-satunya yang dapat menaklukan maut, maka tetap tinggal di dalam Dia, dalam memperjuangkan nilai-nilai kekristenan. Pakailah kekuatan dari Tuhan melawan seteru, bertandinglah dengan imanmu! Dialah Tuhan yang patut menerima kehormatan dan kemuliaan, maka hasilkan buah yang baik, kejarlah karakter kekristenan!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar