Kamis, 21 Januari 2010

Ulangan 6, 4-9

“ Syema, Yisre’el”
1. Kata syema berarti, dengarlah. Kata ini diucapkan Musa pada pidato pembukaan pengajaran, agar mendengar apa yang hendak diajarkan yang menjadi pedoman hidup bangsa Israel. Dengarlah... membutuhkan ketekunan dan keseriusan. Menjadi pendengar yang baik, harus mendengarkan lawan bicara tanpa memotong atau menggurui, sehingga dapat memahami apa yang didengar. Jika dalam ay. 4a dikatakan syema Yisre’el, berarti orang itu dituntun tekun/serius terhadap apa yang dikatakan. Dalam mendengar kita harus fokus pada apa yang sedang dibicarakan.
2. Pengajaran apakah yang harus mereka dengar? Dalam ay 4b disebutkan bahwa Tuhan Allah itu, Esa. (dalam bahasa asli ada tiga arti untuk kata esa, yaitu: Esa, unik dan melulu), artinya, supaya Tuhan sajah yang melulu dikasihi. Kata melulu lebih tepat karena bukan soal penentangan terhadap ilah, di mana dikatakan tidak ada ilah selain Allah, tapi bagaimana kita mengimani dan mengasihi secara total (melulu) hanya kepada Tuhan yang kita kenal dalam diri Yesus Kristus. satu hal yang jelas dinyatakan bahwa Tuhan itu Esa, inilah perkenalan Allah kepada kita. Tidak ada kekuatan lain, tidak ada siapapun yang akan menjadi Allah diluar diriNya, maka kita akan bergantung sepenuhnya kepadaNya.
3. Karena Allah itu adalah esa, maka bangsa itu, harus melulu, mengasihi Tuhan Allah. Artinya, dari seluruh eksisensi diri kita akan menagasihi, menghormati Dia. Musa menjelaskan kasih itu, dalam tiga bentuk, yaitu:
• Dengan segenap hati : lev: Seluruh perasaan, hati dan pikiran kita melulu hanya mengasihiNya. Dalam kondisi apapun perasaan kita agar hanya mengasihi Tuhan saja.
• Dengan segenap jiwa : nefesy : leher, nafas, hidup. Mengasihi Tuhan harus dari totalitas hidup kita, setiap helaan nafas kita harus mengasihi Dia.
• Dengan segenap kekuatan : Dengan kemauan dan kehendak yang sungguh-sungguh rela dan tunduk pada kehendak Tuhan. Bukan karena paksaan tapi karena kasih yang bulat mengikuti kehendakNya.
4. Ajaran ini merupakan perintah yang harus diperhatikan, harus diajarkan berulang, tidak jemu-jemu dan tidak berhenti. Berulang-ulang dalam rangka menajamkan spritual, sehingga tidak pernah melupakan Tuhan yang membawa mereka keluar dari mesir. Menurut ahli kemampuan seseorang mengingat maksimal dua tahun. Karena sikap pelupa manusia, maka harus diajarkan berulang-ulang dari generasi ke genarasi. Apapun pelajaran bila tidak diulang, maka akan hilang. Sama halnya dengan sesuatu yang kita kerjakan, bila tidak menjaga dan merawat maka tidak akan memanen hasilnya.
5. Perintah ini juga harus selalu dibicarakan, setiap waktu, dan dalam situai apapun. Ada banyak anak yang melawan orang tua, bahkan memukul, kenapa demikian? Karena mereka tidak mengingat firman Tuhan, maka perlu kita menghidupi perintah TUHAN dengan membicarakan dan mengajarkan berulang-ulang. Maka firman Tuhan yang dibicarakan hari ini akan menentukan seseornag bagaimanakah bersikap. Itu sebabnya dikatakan dalam Amsal 29, 17:. “Didiklah anak-anakmu, maka ia akan memberikan ketentraman kepadamu”. Dalam kesempatan yang lain Salomo juga berkata, “Didiklah anak-anakmu pada jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya-pun ia tidak akan menyimpang dari jalannya” (Amsal 22:6).
6. Mengasihi tidak ketika kita sedang berbahagia, tetapi dalam keadaan duka pun jangan kita menghilangkan rasa kasih kepada Tuhan dengan mengasihi diri sendiri. Maka kita kasih itu mengisi hidup kita, kita akan terus menerus diam dalam kebenaran firman. Seseorang pernah berkata bahwa dia mengasih saudaranya, tetapi ketika saudara itu berselingkuh dia tidak menegur, sebaliknya ,membela bahwa suami saudaranya itu kurang romantis, sehingga mengganggu suami orang lain. Kasih bukan mendukung apa yang dilakukan yang yang kita kasihi, tapi bagaimana dia boleh mengenal kesalahannya karena kita mengarahkan hatinya mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan kekuatannya dengan menjaga kekudusan perkawinan. Sama dengan pohon, bila sejak kecil diikat kepada tongkat yang lurus, maka besarnya akan lurus lurus, namun bila sudah sempat bengkok sulit diluruskan, atau bisa jadi patah. Jadi pelan-pelan, mulai membicarakan firman Tuhan sejak dini kepada anak-anak kita atau sekitar kita. Rumah bukan hanya sekedar untuk tempat istirahat, tempat berlindung dari panas terik matahari dan dari hujan, tetapi juga sebagai tempat bagi anggota keluarga untuk berkumpul, menyanyikan pujian, berdoa dan mempelajari firman Allah
7. Mengajar anak-anak pendidikan agama (Firman Tuhan) secara berulang merupakan tanggungjawab orang tua untuk kebaikan anak-anak. Tanggung jawab orang tua tidak hanya mengajarkan bagaimana pintar, bagaimana kaya, bagaimana meraih masa depan, tetapi penncapaian itu semua tentu akan didasari Firman Tuhan. Orang tua perlu mengajarkan seorang menjadi orang pintar yang takut akan Tuhan, bagaimana menjadi kaya, tapi tidak sombong dan peduli pada orang lain, kerja keras sebagaimana Firman Tuhan, tapi jangan lupa istirahat, jang lupa pada orang lain, bagaimana meraih masa depan ? tentu dalam kebersamaan dengan Tuhan yang adalah yang awal dan yang akhir (alpha dan Omega).
8. Apa pun bidang pelajaran (B. Indonesia, matematika, sains, geografi), semua akan berlandaskan Firman Tuhan, sebab ketika bidang per-bidang, yang kita pelajari, misalnya ketika belajar agama 100 % bermoral, lonceng masuk pelajaran olahraga sepertinya menghilangkan nilai-nilai spritualitas. Maka bukan citra membuat seseorang menjadi orang tua , tetapi orang tualah menciptakan citranya sendiri di tengah keluarga.
9. Hubungan dengan Allah, akan membangunhubungan dengan keluarga/anak-anak. Allah memberikan anak-anak kepada orang tua untuk diperhatikan, mulai dari kandungan. Pada usia kandungan 5-9 bulan, seorang ibu stress akan berpengaruh pada anaknya waktu lahir. Anak 1 tahun melihat ibunya menangis, anak ikut nangis. Sejak anak-anak diajar yang baik, pada dewasanya akan memegang nilai yang dia terima. Maka bila setiap anak sekolah minggu di gereja lipat tangan, tutup mata ketika berdoa, karena dasar-dasar berdoa sudah diajarkan orang tua di rumah, di mana berbicara dengan Allah harus hormat. Namun ketika ada anak berdoa, maka telinga temannya di sentil (pilos), dipukul, atau lari-lari, tentunya makna berdoa kemungkinan belum diajarkan di rumah, maka Orang tua akan mengajarkannya berulang-ulang, bukan hanya sekali waktu tanggal 1 Januari, tetapi konsisten terus menerus.
10. membicarakan waktu duduk dirumah, sedang nonton TV, main Internet. Atau sedang berjalan-jalan ke mall. Artinya, bukan mengganggu perjalanan kita, tetapi bagaimana kita mengisi waktu kita dengan hal yang baik. Termasuk juga waktu berbaring, inilah yang kita jadwalkan dengan membacakan cerita Alkitab, atau kita hafalkan beberapa nyanyian, doa dan kata-kata yang bermuatan nilai-nilai moral. Malam tidak berarti selesai, sesudah bangun pun akan terus diajarkan tentang firman Tuhan.
11. Terkadang tehnologi sudah mengambil alih pembicaraan keluarga, tidak ada kesempatan lagi memperbincangkan yang diimani kepada anak-anak, maka sebenarnya kehidupan tentang TUHAN akan melekat dalam kehidupan orang percaya. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan” (Efesus 6:4).
12. Musa mempunyai cara untuk menunjkkan kasih kita pada Tuhan, sehingga terus-menerus kasih itu menyala, yaitu dengan mengikatkan sebagai tanda di tangan dan lambang di dahi. Apa yang hendak disampaikan oleh Musa? Diikat di tangan agar kita terus mengingat perbuatan tangan Tuhan yang menolong kita di sepanjang hidup kita. Melekatkan di dahi, diantara kedua mata, agar firman Tuhan terus dalam pikirkan kita, sehingga kita berada dalam terang firmanNya di sepanjang perjalanan hidup kita. Saat ini memang kita tidak lagi mempunyai tanda seperti apa yang dikatakan oleh Musa dalam ay 8-9. tetapi kita punya tanda salib yang kadang kita gunakan sebagai anting, mainan kalung atau digantungkan di dinding rumah. Yang mau dikatakan bahwa lambang-lambang itu bukan hanya ornamental belaka, tapi itu suatu lambang, bagaimana kita mengingat Tuhan Yesus telah mati di salib dalam membawa kita keluar dari maut. Aneh toh, kita memakai salib dari emas, tetapi tanpa takut kita melakukan dosa. Berselingkuh dengan Salib di dada, salib yang dekat di hatinya!
13. Menjadi umat Allah perlu keseriusan. Ay.4 merupakan pengakuan Yudaisme yang wajib diucapkan setiap pagi dan malam. Kalimat ini perlu kita adaptasi menjadi bagian dari pengakuan (credo) kita, bahwa kita mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan kita. Mengasihi tidak melulu hanya perasaan, tapi kebulatan/ketotalan hidup mengikuti perintahNya. Ketika keluarga Yahudi mengaku setiap pagi dan malam, maka pengakuan itu akan menuntun mereka menjadi setia pada Tuhan. Tidak mungkin ada orang yang berkata ‘aku mengasihi Tuhan’, tetapi tindakannya memusuhi atau membuat hati Tuhan sedih. Maka syarat memahami perintah itu adalah mendengar, mengajarkan berulang-ulang dan membicarakan setiap saat dan dalam semua situasi.
14. Kita harus ingat bahwa keberhasilan manusia ditentukan, hubungan pribadi yang diikat kepada Tuhan dengan mengasihiNya. Dalam istilah Yahudi disebut ‘Bezrat Hasyem’ : dengan pertolongan Tuhan. Maka setiap yang dilakukan harus fokus, sebagaimana yang digambarkan oleh seorang penulis buku tentang pengalamannya dengan seorang Rabbi, di mana, waktu Rabbi itu berdoa ikat kepalanya jatuh, tetapi tidak mengganggu dia, dia terus berdoa. Focus dalam ibadah akan mempengaruhi sikap kita dalam menjalai hidup.Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar