Jumat, 13 November 2009

2 Timoteus 1, 6-13

Menjadi Saksi
1. Seorang teolog pernah berkata di akhir hidupnya: ‘Saya menyesal selama ini saya terlalu banyak membahas tentang iblis. Seandainya hidup ini saya isi dengan membahas, memikirkan dan menulis tentang Yesus Kristus, betapa banyak orang yang terselamatkan’. Pengakuan ini mengingatkan orang-orang kristen agar mengisi hidupnya dengan baik, benar dan sesuai dengan karunia Allah yang diterima.
2. Kadang-kadang kita juga mengalami kehidupan yang terlalu banyak memikirkan yang negatif tentang hidup, tentang orang lain, sehingga waktu untuk yang positf menjadi sedikit. Seorang motivator etos kerja pernah berkata: bangunlah pikiranmu dengan yang positif, maka tindakanmu otomatis akan berlaku positif. Artinya, pertumbuhan spiritual orang yang berpikir positif akan semakin cerdas dan tajam dalam memaknai hidup. Tapi saya sering melihat orang yang selalu melihat sisi negatif dari sesamanya. Ketika ada orang menulis nats Firman Tuhan di status facebooknya, tiba-tiba ada orang yang menanggapi, ‘apakah firman yang kau tulis itu sudah sesuai dengan tindakanmu, atau itu hanya kemunafikan?’ Aneh, ketika seseorang pun membiasakan diri dengan membaca Firman, kita melihat itu sebagai yang negatif, sehingga muncullah orang-orang kristen yang hanya memperdebatkan Firman Tuhan , bukan menghidupinya. Padahal, saya merasa masih ada yang berpikir negatif dalam memahami Firman Tuhan, sehingga cenderung sisi negatif pemberita Injil yang dibicarakan, bukan injil itu.
3. Paulus yang mengisi hidupnya dengan yang baik dan benar, yang berpikir secara postif tentang keselamatan dan anugerah Tuhan, setelah dia mengenal Kristus, di akhir hidupnya pun, di mana dia sedang berada di penjara Roma, tetap mengucapkan, membicarakan kebaikan. Dia tidak mempersoalkan derita yang dialami dalam memberitakan injil, atau kelemahan fisiknya karena berada di penjara pada masa tuanya, sebaliknya dia menasihati Timoteus, anak rohaninya supaya tetap mengobarkan karunia Allah dalam dirinya. Supaya terus semangat atas penyertaan Roh yang menguatkan menyala-nyala dalam hidupnya. Walaupun hidup Paulus hampir berakhir, dia tetap mengingatkan Timoteus dalam surat kirimannya, agar jangan malu, takut dan gentar dalam memberitakan Injil. Paulus memang sangat mengenal Timoteus sebagai seorang yang muda, dengan pembawaan pendiam, pemalu dan agak penakut. Paulus menguatkan dalam kasihnya pada Timoteus agar tidak pernah undur mengobarkan karunia Allah yang dicurahkan padaNya, walaupun dia akan meninggalkan Timoteus bekerja sendiri dalam memberitakan injil.
4. Ada tiga catatan penting yang dituliskan Paulus untuk Timoteus:
• Mengobarkan Karunia Allah : Kerasulan (tumpang tangan menjadi hamba) merupakan tanggung jawab. Bila Timoteus telah menerima tugas dan tanggung jawab itu, maka dia akan terus semangat dalam tuntunan ROH yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban dalam dirinya. Dia akan mengobarkan karunia itu dalam menjalankan tugasnya, dalam memberitakan injil, karena Allah tidak mengaruniakan roh ketakutan padanya, Roh keberanian. Paulus menyemangati Timoteus agar tetap semangat, walau mungkin di hadapannya penuh tantangan.
• Jangan malu: Tidak sedikit orang yang malu menyaksikan Tuhan. Tapi tidak sedikit juga yang bangga menjadi orang kristen. Mungkin kita pernah melihat dan mendengar, ketika ada artis atau atlit yang memenangkan pertandingan, dan berkata dengan berani tanpa rasa malu, ‘Terima kasih Tuhan Yesus’. Kalimat itu sederhana, tapi memuat suatu penginjilan besar, bahwa apapun yang dia miliki, apaun yang dimenangkan, itu bukan karena kekuatannya, tapi karena Kristus memberi talenta, memberi keberanian, memberi hikmat dalam memperjuangkan anugerah yang terus mengalir dalam hidup manusia. Kalimat itu merupakan pernyataan yang tegas dalam moment yang tepat tanpa ragu-ragu memperkenalkan Tuhan yang mereka imani. Tidak harus dengan cara yang sama kita menyaksikan Tuhan yang kita imani, tapi kita terpanggil dan bertanggung jawab dalam tugas dan kesempatakan kita masing-masing memberitkan dan menyaksikan Tuhan yang memelihara dan menganugerahi kita karunia.
• Panggilan Kudus: Tiap-tiap orang terpanggil untuk menyatakan bahwa Dia menyelamatkan dan memanggil kita menjadi saksi-saksi. Panggilan itu, bukan karena berdasarkan perbuatan kita, tapi berdasarkan maksud dan kasih karuniaNya dalam Yesus Kristus sebelum permulaan zaman, dengan mematahkan kuasa maut, untuk mendatangkan hidup yang tak binasa. Untuk memberitakan itu, kita terpanggilan dalam panggilan kudus menjadi saksi, pemberita injil, rasul dan guru.
5. Dari tiga catatan di atas, perlu kita ingat, bahwa Tuhan memperlengkapi kita dengan roh keberanian, roh yang membangkitkan kekuatan kasih dan roh mentertibkan diri (Sofronismos: Pengendalian diri dalam menghadapi kefanikan atau hawa nafsu). Inilah ciri khas kekristenan; keberanian terus menerus karena keyakinan bahwa Tuhan bersama-sama dengan orang yang melakukan tugas panggilannya. Kekuatan dan keberanian oleh Roh membuat kita tidak malu, setia dalam iman melewati berbagai persoalan, sehingga sanggup melewati titik yang menghancurkan, bukan menjadi hancur. Kekuatan itu juga mempertahankan kasih berjalan dalam diri kita, sehingga tidak mudah putus asa dan undur tetapi tetap semangat dengan berlaku tertib. Apapun yang kita hadapi, tidak mengendurkan semangat, sebab roh pengendalian diri menguatkan kita dalam memahami tindak ketidak benaran yang kita hadapi.
6. Tidak dapat dipungkiri bahwa kesetiaan pada injil akan menghadapi banyak kesulitan, dan Timoteus harus menghadapi ini, tetapi sebagaimana Paulus telah alami dia mengatakan bahwa injil adalah injil keselamatan, injil pengudusan. Injil tidak hanya menyelamatkan manusia dari dosa masa lalu, tapi sekaligus memanggil untuk hidup dalam kekudusan. Barclay dalam buku tafsirannya mengangkat dua contoh tentang injil yang menyelamatkan dan menguduskan:
• Seorang penjahat New York, terakhir dipenjara karena perampokan dan kekerasan, hendak merampok lagi, tapi sebelum bertemu dengan sekutunya, dia mencopet dompet seseorang. Ketika diperiksa isi dompet itu, dia menjadi muak karena berisi alkitab Perjanjian baru. Sambil menunggu teman-temannya, dengan malas-malasan dia membuka-buka alkitab itu dan membacanya. Ada banyak kalimat yang membuat dia terpukau, sehingga ia membaca dengan sungguh-sungguh. Beberapa jam kemudian, dia menemui teman-temannya, dan memutuskan hubungan dengan mereka.
• Seorang pemuda Arab di Aleppo, bertengkat sengit dengan mantan temannya. Ia menceritakan kejadian ini kepada seorang pemberita injil dan mengakatan sangat benci pada temannya itu dan akan membalasnya, bahkan kalau perlu akan membunuhnya. Suatu hari pemuda itu bertemu lagi dengan penginjil itu dan menyuruhnya membeli kitab Matius. Untuk menyenangkan hati penginji itu dia membeli tapi tidak membacanya. Ketika dia akan tidur malam, kitab itu jatuh saku celananya, dia memungut dan mulai membaca; ketika sampai pada kalimat: kamu telah mendengar yang difirmankan pada nenek moyang kita dulu, ‘jangan membunuh...’: tetapi aku berkata, setiap orang yang marah pada saudaranya akan dihukum. Firman itu membuatku teringat pada teman yang kubenci, aku gelisah luar biasa, sampai aku bertemu kembali pada ayat yang mengatakan, ‘datanglah kepadaKu, hai kamu yang letih lesu dan berbeban berat, karena Aku akan memberi kelegaan kepadamu’. Sukacita dan kedamaian memenuhi hatiku dan kebencian pun lenyap.
7. Dua contoh di atas hendak mengingatkan kita bahwa Injil tidak hanya menyelamatkan, tapi memasuki hidup kita untuk keluar dari hawa nafsu masuk ke dalam panggilan kudus dalam kehidupan yang benar sebagai penampakan kesaksian kita pada dunia sekitar. Artinya injil didengar, dipahami, diubah dan siap untuk meninggalkan dosa masuk pada pengampunan Kristus untuk boleh menjadi pengampun. Injillah yang mengubah mantan narapidana New York dan seorang pemuda di Aleppo. Injillah yang menguduskan hati pemuda di Apello sehingga mau mengampuni.
8. Injil adalah anugerah, ketika injil disaksikan itu berarti kita menyampaikan maksud Allah kekal akan kehidupan manusia dan dunia ini. Kita menerima injil untuk kita saksikan bagaiaman injil telah menyelamatkan dan menguduskan hidup kita, sehingga dalam panggilan kudus itu, kita menjdai berani menyatakan pengalaman kita pada orang bebal, orang bermata tapi tidak melihat, orang yang bertelinga, tapi tidak mendengar. Ke tengah-tengah kumpulan orang bebal dan jahat sekalipun (Yes 43,8-13) kita tidak akan takut menyaksikan kuasa anugerah yang kita alami, karean Dia lah Tuhan, yang sebelum dan sesudahnya tidak ada seperti Dia. Dialah Tuhan yang menguatkan dan memberi tumpangan tangan pada kita, sehingga tidak takut untuk menyaksikan pengalaman iman kita bersamaNya.
9. Tuhan memilih kita menjadi hamba dan saksiNya (Yes 43,10), itu berarti Tuhan mengamugerahi kita dengan kedasyatan yang luar biasa kepada bangsa-bangsa bebal, kepada bangsa yang mengukir batu dan kayu untuk disembah, dan Tuhan akan menguatkan dan menyertai kita. Tak seorang pun yang bisa menghalangi kesaksian kita atau keluar dari tanganNya ketika Allah telah bertindak. Oleh karena itu beritakanlah injil baik atau tidak baik waktunya. Katakanlah kesaksian yang benar dan jujur atas sebuah kejadian yang kau alami, sehingga tidak ada korban saat kita menyimpan kebenaran itu.
10. Bila injil telah menjadikan Paulus menjadi guru dan Rasul, maka kita juga akan menjadi utusan Tuhan di dunia ini, khusus di negara kita yang penuh dengan rekayasan ini untuk mengatakan kebenaran Kristus. Kita terpanggil dengan injil yang menguduskan menjadi saksi kristus di mana pun kita berada. Selamat menyaksikan anugerah Tuhan Yesus Kristus, Tuhan me

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar