Kamis, 28 Oktober 2010

Yesaya 66, 10-14

“Pengasihan Tuhan menumbuhkan sukacita”

Ketika seseorang mengalami dukacita atau dirundung berbagai penderitaan oleh berbagai persoalan hidup, maka manusia berusaha atau mencari cara untuk menghibur dirinya; Ada yang berpesiar ke berbagai tempat untuk menenangkan diri, ada yang mengkonsumsi makanan dan minuman secara berlebihan dalam kerangka melupakan kesusahan hidup atau ada juga mencari dengan merusak diri. Tetapi apakah hal itu sudah memberi sukacita baginya ? Atau hanya hiburan temporer yang memberikan pertolongan sesaat dalam dirinya. Bagi yang suka makan dalam menghadapi persoalan akhirnya terjadi obesitas, kelebihan berat badan, atau yang suka mengkonsumsi sesuatu, sering menjadi mabuk, menjadi tergantung kepada sesuatu yang membuatnya bisa melupakan sementara atas berbagai persoalan. Ternyata, sering jalan keluar yang dibuat manusia mengatasi persoalannya, justru menambah beban dari persoalan hidup. Bila datang situasi yang menyesakkan, atau persoalan-persoalan yang sangat menekan, janganlah segera mengatasinya dengan cara instant namun beracun, biarlah kita tetap tinggal bersama Tuhan, menjadi orang yang berhikmat untuk mencari penyelesaian. Namun ketika persoalan itu berkepanjangan, serta di tambah dengan masalah-masalah yang bertubi-tubi hadir, ingatlah TUHAN yang pasti selalu mendengar mereka yang berteriak kepadaNya.
Saat ini, pada minggu sukacita (letare) kita memperoleh hikmat, memperoleh pencerahan bahwa kita memperoleh penghiburan Tuhan, sebagai sumber sukacita kita, ketika menghadapi berbagai persoalan hidup, Dia sumber sukacita yang setia menyertai dan menghibur kita. Penghiburan dapat kita terima bila kita tunduk dan mengimani perbuatan Tuhan yang penuh kebaikan, sehingga berbagai keadaan dan situasi sulit dalam kehidupan dapat dimaknai dan lampaui dengan hati tegar, apa adanya dan siap pada proses pemulihan yang diberi Roh Kudus. Bersukacita bukan berarti kita bebas dari segala pergumulan, penderitaaan. Justru menurut Kitab Ayub dalam hidup ini banyak kesulitan yang akan kita hadapi. Tetapi yang membuat kita bersukacita, adalah ketika kesadaran kita terbuka, di mana, saat kita didera persoalan yang menyesakkan, TUHAN senantiasa tetap memperhatikan, mendampingi dan menguatkan kita. Inilah sukacita setiap orang percaya, dia tidak pernah dibiarkan menyendiri dalam persoalan-peroslan berat yang dihadapinya.
Bersukacita, dan bersoraksorak bagi yang berkabung, adalah satu momentum yang membuat keadaan berubah..Bagaimana mungkin mereka yang berkabung boleh berubah secara drastis. Hal ini bisa terjadi lewat orang yang menyapa, menghibur dan berbicara padanya dengan kuat kuasa yang luar biasa, yang bersumber dari Roh penghibur, sehingga memberi perubahan secara mental spiritual. Ternyata Tuhanlah yang menjanjikan berkat melimpah, sekaligus penghiburan. Janji dari Tuhan menjadi sesuatu yang menggembirakan, sebab Dia adalah Allah yang selalu setia memenuhi apa yang dijanjikanNya.
Ketika Tuhan bertindak, hamba-hambaNya akan memperoleh hati yang girang, dan dukacita bagi musuh-musuhNya yang akan memperoleh amarah. Maka persekutuan yang indah diantara Umat dengan TUHAN, menjadi awal sukacita bagi setiap ciptaan. Dia memberi pengharapan sebagai kekuatan menghadapi kesusahan dan kesulitan.
Sering kita mendengar orang stress dengan berbagai masalah yang dihadapi. Tapi Firman Tuhan menjanjikan; bila kabut, hujan datang, sampai rumah kita kebanjiran, jalan macet, seolah kita tidak bisa bergerak; jangan panik seperti menghadapi akhir zaman, karena masih ada hari esok di mana Tuhan ada di hari esok kita, Tuhan yang menjanjikan bahwa matahari akan bersinar esok dan sukacita memenuhi rumah kembali memperoleh hari yang cerah.. Yang sering menjadi keraguan orang yang menderita, bagaimana bila keadaan kita justru semakin buruk ? Alkitab mencatat, dalam hidup yang menderita, supaya kita tetap berani menghadapi persoalan tersebut, jangan gelisah atau tawar hati, (Yosua 1, 7), karena penderitaan yang kita alami sekarang adalah permulaan (Yoh 24,8). Meskipun penderitaan itu datang, kita akan tetap mampu karena dimampukan bersukacita oleh Tuhan yang ada bersama dengan kita (Immanuel).
Umat Israel pada masa pembuangan merasakan derita yang sangat menekan, karena terbuang dan terasing, mereka sangat membutuhkan penghiburan untuk memulihkan jiwa mereka yang tertindas. Trito Yesaya dalam perikope khotbah kita ini, memberikan penghiburan bagi umat Tuhan. Mereka diingatkan bahwa kasih Tuhan ada di tengah-tengah mereka, sehingga dapat merasakan perhatian dan kasih Tuhan, seperti seorang anak yang merasakan kasih ibunya ketika di gendong dan dibelai dalam pangkuanNya. Demikianlah Tuhan bertindak seperti seorang ibu pada anaknya. Inilah suatu perbuatan Tuhan yang indah perbuatan dan ajaib bagi orang yang dikasihinya. Saat kita memahami Tuhan sebagai TUHAN yang tegas, dengan menindak umatNya yang memberontak sehingga terbuang di negeri asing, Dia juga harus ita pahami, bahwa Dia juga adalah TUHAN Yang Maha kasih, yang bertindak secara feminim, sebagai seorang ibu yang rahimi dan penuh kelembutan dalam kerangka menyatakan kasih sayangNya bagi umat. Bila seseorang sedang mengalami kesusahan, secara spontan akan memanggil ibunya (mama), karena membutuhkan perlindungan dari ibu bagi jiwanya yang menderita, karena dalam ibu ada sesuatu yang memberi rasa nyaman dan tenteram baginya, bagaikan seseorang yang meringkuk dalam rahim. Artinya, saat nabi Trito Yesaya menceritakan kasih Allah, sebagai kasih seorang ibu, hal ini akan menentramkan kehidupan umat yang sedang gundah-gulana.
Sukacita Umat Tuhan yang termuat dalam kasihNya adalah bahwa umatNya tidak hanya menerima hukuman karena kesalahan-kesalahannya, namun ada waktunya juga Allah mengalirkan keselamatan bagi mereka, bagaikan aliran sungai yang terus menerus memberikan kesegaran (berkatnya). Yerusalem juga menjadi saluran berkat tersebut.. Maka ada sesuatu pelajaran yang diberikan TUHAN bagi manusia, bahwa menghukum selalu didalam kasih, maka orang terhukum tidak dibiarkan dalam penderitaanNya. Ketika umat hukuman semakin lemah, semakin kehilangan semangat, TUHAN segera mengingatkan mereka untuk setia kepada TUHAN, dan segera akan memperoleh kebebasan.
Allah terus-menerus berkarya dan berbuat, bagi umat-Nya di manapun mereka berada Maka harus selalu di ingat Allah yang menghukum umatNya, sekaligus juga yang mengasihi, menghibur serta memelihara (dalam sikap sebagai seorang ibu memberi air susu, menjadi kehidupan serta kekuatan)
Yerusalem akan memiliki damai sejahtera dan menjadi penghibur bagi semua orang yang mengasihi Allah, termasuk bangsa-bangsa yang datang kepadaNya. Kesetiaan umat kepadaNya merupakan respon aktif terhadap keselamatan yang telah diberikan olehNya. Firman ini dengan tegas menyatakan bahwa berita keselamatan berlaku bagi umat yang setia kepadaNya. Keselamatan bukanlah untuk didiamkan saja, sangat perlu respon aktif dari si penerima keselamatan.Keselamatan yang diberikan menjadi kekuatan kita berharap terus menerus pada pertolongan TUHAN. A m i n.

Jumat, 15 Oktober 2010

Filipi 3, 17-21

"Menjadi Teladan"
1. Ketika Sebastian Pinera, Presiden Cile mengambil tindakan dengan biaya yang sangat besar menyelamatkan 33 orang pekerja tambang, setelah 69 hari terjebak hampir 700 meter di bawah permukaan tanah, Cile bangga atas operasi penyelamatan yang heroik ini. Dunia bergetar melihat tindakan heroik ini, di mana presiden yang baru terpilih beberapa bulan ini dan menunda kunjungannya ke Eropah hanya untuk menyaksikan tindakan penyelamatan ini datang ke lokasi pertambangan tanpa pengawalan. Banyak suara yang mengatakan tindakan yang perlu diteladani. Tidak menutupi masalah sebagaimana bencana di Wasior, Papua Barat yang disebut murni bencana bukan karena pengrusakan alam.
2. Sangat sulit menemukan orang yang bisa menjadi teladan dalam perbuatan. Tidak sedikit orang yang berani mengatakan sebagaimana yang dikatakan Paulus dalam perikope ini, di mana ia mengajak orang untuk meneladaninya. Terjemahan J.B. Lightfoot untuk ay. 1 ini dikatakan, ‘bersainglah satu dengan yang lain untuk meniru aku’. Ephorus (em) Pdt DR Justin Sihombing dalam ‘poda parjamitaon’ mengatakan: Jamitahon ma ngolumi, ngolumi ma gabe jamita (Hidupmu adalah khotbahmu, khotbahkanlah hidupmu!). Artinya, dibutuhkan keberanian untuk mengedalikan diri dari nafsu dunia untuk berani mengatakan kata-kata Paulus ini.
3. Menjadi teladan dalam kata-kata sangat banyak, tapi dalam perbuatan itu sangat sulit ditemukan. Saya mengenal seorang ayah yang selalu membangunkan anak-anaknya setiap jam 5 pagi pada hari minggu, supaya pergi ke Gereja, namun setelah anak istrinya pergi, sang ayah tidur kembali. Dia selalu menjadi contoh dalam kata-kata tapi tidak dalam perbuatan. Beda halnya dengan Paulus yang muncul sebagai teladan dalam kata-kata, tapi juga dalam perbuatan. Nasihat Paulus ini untuk beberapa orang mungkin menganggapnya sebagai egosentris, namun karena dia menganjurkan mengikuti teladannya, tentu diapun hidup mengikuti teladan Yesus ( 1Kor 11,1). Hasilnya, teladan Paulus membuahkan Timoteus dan Efaprodithus.
4. Di Filipi, Paulus memperingati jemaat itu untuk hidup benar, maka selanjutnya dia memberi dorongan bagi jemaat dengan lebih dahulu melakukannya sebagai teladan bagi jemaat. Artinya, Paulus tidak sekedar mengatakan tentang kebenaran tapi dia hidup dalam kebenaran itu, sebagaimana pengajaran Kristus yang diikutinya. Paulus hendak menyatakan supaya mereka selalu bergembira (ay.1) menghadapi situasi sulit, jangan bermuram durja oleh masalah, karena jika kita memfokuskan diri pada penderitaan yang kita alami, maka setan akan merenggut kegembiraan kita (ay.2). Paulus juga mencerahkan pikiran jemaat dengan menggambarkan kehidupan kristen (3-14) dan dengan tegas bersikap dalam menghadapi situasi apapun, (15-17) dalam menghadapi situasi dunia. Maka dalam ay 17, Paulus menegaskan ‘ikutlah teladanku,...’ artinya jangan mau terpengaruh oleh ajaran apapun selain ajaran yang bersumber dari Kristus.
5. Di Gereja Filipi ada kelakuannya yang menjadi batu sandungan yang ditunjukkan menjadi seteru salib Kristus. Tidak jelas siapa mereka, tapi hidupnya rakus dan tidak bermoral dengan memanfaatkan kekristenan untuk membernarkan cara hidup mereka. Paulus menganjurkan bahwa hidup yang menentang salib Kristus tidak ada kebenaran di dalamnya, maka jauhkanlah diri dari sikap demikian, tapi teladanilah ‘aku’ dalam kata perbuatan. Demikian ajakan Rsul Paulus.
6. Dalam ay 18-19: dengan air mata Paulus mengingatkan jemaat itu supaya menjadi bagian dari pekerjaan Allah di dunia, di mana tidak membuat perlawanan terhadap Kristus, karena sangat banyak orang menjadi seteru salib Kristus. Hal ini menunjukkan bahwa selain kegembiraan dan perkembangan rohani direnggut, ancaman lain adalah ajaran yang menganjurkan agar menjadi lawan dari hukum kasih yaitu ketundukan pada salib Kristus. Munculnya pengajaran yang menyesatkan umat Tuhan tentu mendukakan hati Paulus. Paulus hendak menekankan bahwa musuh salib adalah kelompok yang tidak patuh kepada Yesus yang membawa salib ke dunia. Tidak jelas apakah mereka dari kelompok orang kristen atau di dari luar kristen, tapi konsekwensi dari kehadiran kelompok ini adalah merusak iman percaya kepada Salib Kristus.
7. Mengapa Paulus menolak kelompok yang mengajarkan seteru salib, karena dalam hidup kelompok ini, tidak ada kehidupan, karena sikap mereka membuat kebinasaan, bahkan bisa membuat mereka menjadi mati dini akibat penolakan yan terus menerus akan kebenaran salib. Dalam ay 2, ada 3 kelompok yang perlu diwaspadai, yaitu: ‘Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat yang palsu,’ Paulus dalam iman kepada Yesus yang membawa salib ke dunia menegaskan bahkan untuk menyebut mereka pun adalah memalukan (Ef 5,12). Kelompok ini hanya memberi kesenangan sementara, kesenangan apa yang membuat mereka nikmat di dunia ini, tanpa peduli hal yang rohani. Setiap tindakan mereka tidak melibatkan hal yang rohani. Mereka mempertuhan makanan, memulikan aib (seksual), dan tujuan mereka hal duniawi. Ketaatan ritual mereka sudah beralih tempat dari Tuhan, sebab perkara-perkara dunia menjadi tujuan mereka. Hampir total hidup mereka diserahkan pada yang fisik.
8. Paulus tidak setuju jika manusia memanjakan diri sendiri dengan hanya memuaskan nafsu belaka. Dia melihat gambaran manusia yang memberhalakan diri dengan tidak percaya pada salib Kristus. Untuk mencermati ini, Paulus membawa jemaatnya pada pemahaman eskhatologis, bahwa hidup kita sekarang bukan untuk kesenangan duniawi, tapi ada kehidupan di depan; dibalik apa yang kita jalani. Itu sebabnya dalam ay 20. Paulus menegaskan kewarganegaraan kita bukan di dunia ini, tapi di surga, di tempat mana kita menantikan Juruselamat kita. Kewarganegaraan surgawi ini jauh lebih penting dari persinggahan di dunia yang sedang kita jalani sekarang. Karena tujuan kita tidak hanya di dunia yang sementara ini, maka kita jangan memberi tempat di hati kita menyembah ilah lain, selain dari pada Yesus Kristus.
9. Paulus menegaskan ‘ikutilah teladanku...’ berarti sebagaimana Paulus berpegang pada ajaran Kristus yang dia imani, marilah kita juga mengimani Yesus sebagai Tuhan dan pemberi kehidupan, berpegang pada Tuhan yang sanggup memberi kegembiraan bagi kita.Semua orang yang percaya perlu belajar hidup sebagai orang asing dan peziarah di tanah ini (Heb. 11:13). Tanah ini bukan milik kita, bukan tujuan akhir kita, maka jangan kita sampai menjadi seteru salib hanya karena memperebutkan kesenangan di tanah persinggahan sementara ini. Kegembiraan Paulus tanpa harta duniawi karena dia dapat membayangkan bahwa dia akan kembali kepada pemilik sejati dan pemberi kegembiraan sejati yaitu Yesus Kristus pembawa sukacita dunia.
10. Kita sebagai jemaat tidak hanya meneldani Yesus, tapi terpanggil juga menjadi teladan bagi yang lain. Dalam Pendahuluan khotbah (1 Raja 2, 1-4), seorang ayah perlu menjadi imam dan teladan bagi anak-anaknya, demikian juga seorang kristen agar menjadi teladan bagi yang belum mengenal kuasa salib, supaya dunia tidak menunjukkan kuasanya atas isi alam semesta ini. Hidup kita bukan di dunia ini. Maka isilah yang baik, sementara kita tinggal di dunia ini.
11. Dalam sebuah wawancara dengan Paul Bradshaw, Rick Warren mengatakan:
Orang-orang bertanya kepada saya, apa tujuan dari hidup? Dan jawab saya adalah: secara ringkas, hidup adalah persiapan untuk kekekalan. Kita diciptakan untuk hidup selama-lamanya, dan Tuhan menginginkan kita untuk bersama-sama dengan Dia di surga. Suatu hari jantung saya akan berhenti, dan itu akan menjadi akhir dari tubuh saya tapi bukan akhir dari saya.
12. Maka saat Kristus datang kedua kalinya, tubuh kita yang hina akan diubah seperti tubuhNya yang penuh kemuliaan. Perbandingan kedua badan ini sangat menyolok, yang satu hina, buruk, lemah dengan berbagai pengaruh jahat, penuh dosa. Sedangkan tubuh yang diubah adalah tubuh mulia; tubuh baru yang berkilau sebagai anak Tuhan. Transformasi ini akan terjadi, entah kita hidup atau sudah meninggal, saat Tuhan datang kembali (1 Kor 15,51-54; 1 Tes 5, 9-10). Perubahan yang menkjubkan ini akan terjadi sebab Allah yang punya kekuasaan yang luar biasa, yang menundukkan segala kuasa di alam semesta ini yang melakukannya. Inilah pengharapan umat percaya perubahan dari yang fana ke kekal dari kematian menuju kehidupan kekal. Amin. Selamat mengikut Yesus, selamat menjadi teladan!!

Sabtu, 25 September 2010

Yohanes 8,1-11

"Keterbukaan Yesus pada Semua Orang"
1. Ketika membaca perikope ini ada orang bertanya, ‘apakah Yesus menyetujui dosa dalam hal ini perzinahan, sehingga Dia tidak menghukum orang berdosa; sementara Hukum Musa mencatat bahwa umat Tuhan di larang berzinah?! Pertanyaan ini alasan Ahli Taurat dan orang Farisi membawa seorang perempuan yang kedapatan berzinah kepada Yesus. Mereka hendak mencobai Yesus mengenai konsistensiNya dalam melakukan Hukum Musa sekaligus hokum Kasih. Bagaimanakah Yesus bertindak jika diperhadapkan dengan situasi demikian?
2. Ada sisi kehidupan manusia dalam menghadapi situasi ini, yang pertama gambaran orang farisi dan ahli taurat yang melihat sisi buruk dari orang lain/berpikir negative tentang orang. Mereka berusaha mendapatkan suatu tuduhan atau dasar mana mereka dapat menjatuhkan Yesus yang selalu bersikap baik, terbuka pada semua sifat manusia. Mereka menganggap sikap itu sebagai kemunafikan, sehingga mereka menguji Yesus tentang konsistensi dalam mengasihi umat saat kedapatan melakukan dosa. Mereka hendak menjebak Yesus tentang sikapNya pada orang berzinah. Jika Yesus menghukum sesuai hukum Musa, maka Yesus akan kehilangan nama baik yang penuh kasih dan sahabat orang berdosa. Hal ini adalah wajar sebab jika timbul masalah hukum mereka boleh membawa ke Rabbi. Sisi lain, gambaran Yesus yang terbuka dan menerima keberadaan manusia. Penerimaan ini membuat manusia terbuka dalam pengampunan, sehingga tidak mudah memberi hukuman bagi orang bersalah. Yesus juga selain mengampuni mengingat supaya tidak kembali ke dosa yang sama, tidak melakukan kesalahan yang sama.
3. Sikap pertama tadi menunjukkan bahwa orang Farisi dan ahli Taurat menunjukkan bahwa ada pertentangan antara ajaran mereka dengan apa yan diajarkan Yesus. Ketika Yesus terbuka pada semua orang, hal itu dianggap pencemaran terhadap kekudusan, sehingga mereka sering menguji Yesus jika sedang bersama dengan orang lain yang dianggap tidak kudus, seperti perempuan Samaria, pemungut cukai, orang Samaria yang baik hati. Dll. Tetapi sikap ini tidak membuat Yesus menjadi undur berbuat baik, Yesus yang tidak diterima kalangan agamawan Yahudi tidak menjadi gentar melakukan pengutusan yang diterima dari BapaNya. Sikap mereka tidak memperngaruhi sikap Yesus dalam menjalankan tugasNya.
4. Baru-baru ini saya mengenal seseorang yang mengundurkan diri dari jabatan bendahara gereja hanya karena laporannya kurang berkenan di hati beberapa orang. Tindakan mengundurkan diri, adalah sikap ketidakbertahanan melakukan kebaikan hanya karena dikritik, tidak diterima dan kurang berkenan di hati orang. Sering sekali kita bersikap sesuai dengan penilaian orang lain, sehingga apa yang Tuhan mau dari kita menjadi tidak terlaksana.
5. Yesus mengubah cara pikir kita dalam bersikap di tengah kehidupan yang tidak semua pihak boleh menerima kerja dan usahan kita, tetapi dalam situasi itu pun Yesus tidak terpangaruh, tidak mundur melakukan kebenaran.
6. Perempuan berdosa itu siap untuk menerima hukuman sesuai dengan hukum Musa, karena dosa zinah adalah dosa yang dianggap sangat serius. Bagi orang Yahudi lebih baik mati daripada melakukan penyembahan berhala, pembunuhan dan perzinaham. Maka ketika orang Farisi dan Ahli Taurat membawanya ke Rabbi (Yesus), dia ikut, siap untuk menerima hukuman. Sesuai hukum Musa, mereka jelaskan hukuman bagi perempuan itu, tapi Yesus tidak melakukanNya dan meminta orang yang tidak berdosa di antara orang banyak itu yang pertama melakukanNya. Pertanyaan Yesus pada mereka, sekaligus pertanyaan bagi kita: ‘Siapakah diantara kamu yang tidak berdosa?’
7. Rasul Paulus berkata, bahwa tak seorang pun manusia yang tidak berdosa, semua berdosa. Artinya, Yesus juga berpikir demikian, bahwa kedatanganNya k dunia adalah membawa manusia berdosa ke jalan kebenaran. Dia rela menjadi tumbal dosa untuk kemuliaan umatNya. Oleh karena itu, tak seorang pun manusia berhak menghukum saudaranya yang berdosa, sebab penghukuman itu adalah hak Allah, dan Allah telah mengutus Yesus ke dunia supaya dunia tidak binasa, supaya orang berdosa tidak mati di dalam dosaNya. Artinya, Yesus hendak mencerahkan pikiran orang banyak itu bahwa semua manusia adalah umat berdosa dan kedatanganNya adalah untuk mengampuni orang berdosa.
8. Disamping itu, Yesus juga tidak mau konflik secara terbuka dengan orang farisi dan ahli taurat mengenai penghukuman. Sejenak Dia berdiam diri, membungkuk dan menulis di atas pasir untuk menunjukkan bahwa Yesus kurang setuju dengan cara mereka mempermalukan perempuan itu di depan umum. Atau saja Dia menahan rasa malu seperti yang dialami perempuan hina itu. Dia menderita seperti perempuan itu. Disamping itu, Yesus ingin menyadarkan farisi dan ahli taurat dengan mengulang hukuman merekabahwa hukuman itu sangat sadis. Padahal Yesus pernah mengajarkan, kalau ada kedapatan berdosa, baiklah dia dipanggil dan ditanya oleh imam hanya empat mata, kalau dia menolak bolehlah memanggil saksi, jika masih menolak baru ditanyakan di depan jemaat. Tapi ahli taurat telah membawa penzinah ke depan umum dan segera menjatuhkan hukuman.
9. Yesus bahwa semua manusia tidak sanggup melakukan hukum taurat jika dari dirinya sendiri, oleh karena itu Dia datang ke dunia. Alasan itu membuat Yesus memahami bahwa dosa harus diampuni dan diingatkan untuk tidak melakukannya lagi. Persoalan sering terjadi saat kita merasa diri paling benar seperti Farisi dan ahli taurat. Ketika kita merasa benar, kita akan selalu melihat orang lain salah, menggemborkan kesalahan orang lain ke semua orang. Inilah hal buruk dari manusia, menganggap diri lebih benar dari orang lain, sehingga hanya melihat keburukan dari orang lain.
10. Orang banyak itu pergi dan tidak melakukan hukuman yang mereka rancang, ketika sebuah realita dipertanyakan pada mereka. Yesus menyadarkan orang banyak itu bahwa mereka juga adalah orang berdosa. Dengan demikian mereka menjadi tidak berani bertindak anarkhis pada orang berdasa yang sama dengan mereka.
11. Yesus bukan setuju dengan perangai orang berdosa, tapi menginginkan perubahan manusia meninggalkan dosa dan hidup pada kebenaran. Itu pesan terakhir dari Yesus kepada perempuan itu agar pergi dan tidak mengulang kembali dosanya. Perkataan Yesus menjadi pembelajaran bagi kita, bahwa penghukuman adalah hak Tuhan, kita bertugas melakukan kebenaran dan mendukung orang untuk selalu berkembang ke arah yang baik. Ayat 11 adalah konsep berpikir Yesus yang tidak menjatuhkan hukuman bagi orang yang mau diperbaharui. "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."
12. Kita adalah umat tebusan Tuhan, kita juga tidak ada yang luput dari dosa, oleh karena selalu bersikap mengampuni dan melakuakan kehidupan yang diampuni dengan saling terbuka, menerima dan mengasihi. Artinya, selama kita hidup di dunia ini, Tuhan memberi kesempatan bagi kita untuk bertobat dan Tuhan terbuka menerima kita untuk diubah ke arah yang semakin baik. Amin.

Sabtu, 11 September 2010

1 Korintus 12, 14-27

“Bersatu dalam Perbedaan”
1. Gambaran tubuh manusia adalah penjelasan sederhana untuk memaknai kesatuan dalam perbedaan. Bentuk dan fungsi anggota tubuh yang berbeda tidak menjadikan tubuh terpecah-pecah, sebaliknya justru saling mendukung, saling memerlukan untuk mencapai tujuannya. Ketika perut lapar, otak bergerak memerintahkan tangan untuk memasukkan makanan ke mulut, gigi mengunyah dan ditelan melalui leher. Hasilnya manusia kenyang, sehat dan bisa meneruskan kerja. Artinya, satu dengan yang lain saling menolong dan memerlukan untuk mencapai kesatuan.
2. Pernah muncul pertanyaan, ‘mengapa Tuhan menciptkan Adam dan Hawa secara berbeda? Apakah untuk menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan tidak bisa bersatu, atau laki-laki lebih tinggi kelasnya dari perempuan?’ seorang teman Pendeta menjawab pertanyaan ini dengan sederhana, coba kalau semua perempuan sama, bagaimanakah kita mengenal yang mana istri kita dan mana istri orang. Kalau semua sama persis, tentu situasi bisa runyam, apalagi kalau sampai ada yang menggadeng perempuan yang bukan sitrinya, tapi karena perempuan itu berbeda-beda, maka tidak terjadi kekacauan karena masing-masing mengenal yang mana istrinya. Dalam perbedaan itulah justruk nampak keindahan persekutuan Adam dan Hawa dengan perbedaan yang mereka miliki, mereka menjadi saling melengkapi. Demikian juga tubuh kita, coba kalau semua mata, tidak ada telinga, hidung, mulut dan yang lainnya, betapa menakutkan orang itu, tetapi Tuhan mengatur sedemikian rupa sehingga terlihat harmoni, dengan perbedaan itu terjadi keteraturan sehingga sistim kerja menjadi sinergis.
3. Mata tidak ditempatkan satu di dahi dan satu lagi di belakang kepala, tapi sejajar, sehingga harmonis dan pandangannya bisa jauh dan jelas karena dua lebih baik daripada satu. Mulut tidak dua, karena dapat menyebabkan kerusakan, kalau dua mulut saling bicara dengan tema yang berbeda. Artinya, Tuhan menempatkan semua secara baik supaya tidak terjadi perselisihan antar satu organ tubuh dengan organ lainnya (ay. 25).
4. Demikianlah hendaknya Gereja, ada banyak anggota jemaat yang berbeda latar belakang, ada Batak, Nias, jawa, ada yang baik, jahat, pintar, bodoh, kaya dan miskin dipersekutukan dalam Gereja dengan karunia/kharismata/kharis yang berbeda pula. Ada yang bisa berdoa, pintar bernyanyi, pintar berkhotbah, pintar menasihati, rajin mengunjungi orang sakit, dll. Kalau dalam perikope khotbah ini, ada 9 disebut karunia dalam diri anggota jemaat. Seperti: (ay.8) Roh memberikan karunia berkata-kata dengan hikmat, berkata-kata dengan pengetahuan. (ay. 9) beriman, menyembuhkan (Ay.10) mengadakan mujizat, bernubuat, membedakan bermacam-macam roh. Berkata-kata dengan bahasa roh, dan menafsirkan bahasa roh. Sebagai pendukung lainnya kita juga boleh membandingkan dengan 1 Kor. 12:28-29; Roma 12:6-8; Efesus 4:11. Semua karunia itu berbeda pada setiap orang (12:11; bnd. I Petrus 4:10-11).
5. Perbedaan itu bukan untuk menjadi kesombongan, tetapi untuk menciptakan kebaikan dan kemuliaan bagi Allah. Apakah Gereja bisa berkembang, jika hanya paduan suara yang dikembangkan dan tidak diasah karunia lainnya. Kepelbagaian yang dimiliki masing-masing orang perlu dikembangkan dan dimanfaatkan untuk mempersatukan seluruh jemaat. Artinya karunia yang berbeda, adayang menonjol, yang lain tidak, tetapi yang menonjol tidak mungkin hanya dengan kekuatannya bisa tercipta gereja yang kuat, pasti ada dukungan dari yang kecil-kecil sehingga menghasilkan buah yang banyak.
6. Billy Graham seorang pengkhotbah besar dari Amerika pernah berkata; ‘jika aku bisa seperti sekarang, bisa menjadi pengkhotbah besar, itu tidak hanya usahaku sendiri, tetapi ada banyak orang dibalik semua itu, yaitu mereka yang selalu berdoa untukku, setiap kali aku hendak melakukan pelayanan’. Kekuatan doa orang sekitar walaupun kelihatannya tidak berarti, tidak nampak, tapi dampaknnya luar biasa, doa mereka menghasilkan pengkhotbah besar. Coba kita pintar berkhotbah, tapi koster gereja tidak mempersiapkan altar yang bersih, sound sistim yang baik, tentu khotbah kita akan sia-sia, karena suara kita tidak menjangkau pendengar. Berbeda dengan gereja-gereja sekarang, berharap muncul pengkhotbah yang baik di gereja, khususnya HKBP, tapi kita tidak mendukung karunia mereka dengan karunia yang kita miliki, yaitu doa-doa jemaat, sebaliknya kita mencari celah bagaimana mempermalukan pengkotbah itu, jika saja kedapatan ada yang salah dari khotbahnya, kita mencari peluang melemahkan pengkhotbah dengan menghina sebagai pengkhotbah yang kurang baik.
7. Paulus mengingatkan jemaat di Korintus yang ketika itu menyombongkan karunia yang ada padanya dengan menghina karunia orang lain. Kesombongan menyebabkan perpecahan antar anggota jemaat, padahal karunia itu adalah pemberian Allah dan semua saling membutuhkan. Maka Paulus menganjurkan supaya jangan menganggap apa yang diterima dari Tuhan lebih berguna dari yang diterima orang lain. Jari tangan dan kaki memang kecil, tetapi tanpa jari-jari, apakah tangan bisa berbuat? Lidah memang kecil tapi tanpa lidah apakah mulut dapat bicara? Kepala besar tanpa otak yang lebih kecil di dalam kepala boleh kah kita memaknai banyak hal? Yang besar dan kecil saling memerlukan dalam kerangka memuliakan Allah dan membangun hubungan baik dengan sesama.
8. Perpecahan sering terjadi dalam hubungan manusia. NKRI harus mampu saling menerima dengan berbagai perbedaan rakyatnya kalau mau bertahan. Kita tahu, bahwa ada banyak suku yang ingin dimerdekakan dan tidak mau bersatu dalam wadah NKRI karena merasa tidak nyaman tinggal bersama. Merasa tidak diperdulikan dan dianggap kelas dua. Sadar atau tidak, kita merasa lebih berkelas dari masyarakat Papuaa, walau mereka mempunyai karunia yang besar membangun Negara ini. Maka untuk memecah persatuan ada demonstrasi, perang suku, dll. Perpecahan bisa juga terjadi antar personal, di daerah-daerah, sering terjadi perebutan tanah sampai ke pengadilan dan hasilnya kalau ditanya, ‘kami menang, tapi tanah kami jual untuk biaya perkara’. Artinya, perpecahan tidak pernah berdampak baik, walaupun kalau di gereja semakin banyak perpecahan, semakin banyak gereja yang berdiri. Karena itu kita perlu saling memakai karunia yang kita terima membangun persekutuan bukan melemahkan orang lain. Jangan karena kita pintar berorasi, kita terus bicara tidak mau mendengar dan isi orasi kita melemahkan saudara yang lain. Hendaklah kita pakai karunia berkata-kata kita bukan mempengaruhi orang lain memusuhi saudaranya, tapi menguatkan kelemahan saudara kita.
9. Hidup yang bersekutu sangat riskan dengan perpecahan, maka persatuan adalah kebutuhan semua bangsa. Yesus dalam doaNya meminta kepada Bapa, ‘supaya mereka menjadi satu… sama seperti KITA yang adalah satu’ (Yoh 17). Maka sebagai pengikut Tuhan, tentu kita berharap supaya ‘semua’ menjadi satu. Kebutuhan ini dibentuk dalam wadah seperti, gereja sedunia, gereja luther sedunia, Gereja seasia, PGI, MAWI, ICMI, HMI, GMKI, GAMKI, dll. Arisan ‘marga’, ‘parsahutaon’, dll. Semua itu dibentuk dalam membangun persatuan. Namun persekutuan yang dibentuk untuk mewakili pikiran manusia bisa terpecah karena dorongan egoisme, fanatisme dan kesombongan.
10. Untuk membangun Gereja yang bersekutu dengan baik, yang mensejahterakan kehidupan dan memuliakan Tuhan, semua karunia akan dipakai untuk saling mendukung, saling menolong, tidak menganggap diri lebih baik dari yang lain. Yang lemah ditolong yang kuat, yang kuat disempurnakan yang lemah. Istilah Marthin Luther: “kamu menjadi kita; aku menjadi kau’. Amin.

Sabtu, 28 Agustus 2010

Imamat 19,16-18

1. Mother Theresia, ibu lambang perdamaian dan kasih, pernah berkata: “Tebarkanlah kasih ke mana pun engkau pergi: pertama-tama di rumahmu sendiri, dan menyebar ke sekitarmu dan ke semua orang di semua tempat. ...Jangan pernah membiarkan seseorang datang kepadamu lalu pergi begitu saja tanpa merasa lebih bahagia dan lebih baik.Ungkapan kasih dan kebaikan hati Tuhan yang hidup melalui kasihmu; kebaikan hati di wajahmu, kebaikan hati di matamu, kebaikan hati di dalam senyummu, kebaikan hati di dalam salam hangatmu, sehingga dengan demikian engkau dapat memenangkan dunia ini bagi Kristus, dengan kasih.
2. Penulis-penulis modern banyak menganjurkan agar kita mengembangkan cara berpikir yang positif dalam menjalani hidup. Salah satunya adalah: katakan untuk sesuatu yang sulit bahwa ‘aku bisa’, maka kau akan bisa. Jika yang positif kita pikirkan tentang diri kita dan sesama maka, yang baik akan semakin berkembang di tengah hidup kita. Bila firman Tuhan berkata dalam ay. 16 mengatakan, ‘jangan...’ itu berarti, supaya membatasi diri dalam bersikap, berpikir dan bertindak negatif tentang orang lain. Jangan menyebarluaskan gosip, mengucapkan sesuatu yang tidak benar, yang bisa mencelakan orang lain dengan fitnah yang kau sebarkan. Salah satu korban dari fitnah adalah Tuhan Yesus, di mana para Imam Yahudi memfitnah Yesus. Yesus menanggung fitnah mereka sampai mati di kayu salib. Fitnah dapat menghancukan hidup seseorang, karena itu jangan menyebarkannya, jangan mengancam hidup mereka dengan kebohonganmu.
3. Ada banyak hal-hal yang kita terima dari orang lain yang melukai dan menyakiti hati kita. Terkadang hal baik yang kita maksud, ditanggapi dengan tidak baik, bahkan dianggap sesuatu yang buruk. Kita difitnah, disebut orang yang merusak hidupnya. Apakah sikap kita terhadap tindakan orang yang mencelakai diri kita? Menurut hukum Yahudi, gigi harus diganti dengan gigi, mata ganti mata. Artinya kejahatan harus dibalas dengan kejahatan. Tetapi firman Tuhan mencoba mencerdaskan sikap dan pikiran kita merespon sikap orang lain dalam kehidupan kita, di mana diajarkan supaya kita jangan membenci secara diam-diam, merancang pembalasan atas perbuatannya. Terhadap orang-orang yang melukai kita, sebaiknya kita mengasihinya, merancang hal yang baik baginya dengan menegurnya secara terus terang, mengingatkannya atas kekurang-mengertiannya.
4. Bagaimana mengasihi musuh-musuh kita? Apa yang dapat kita lakukan terhadap mereka? Sebuah pertanyaan praktis, namun sulit dilakukan. Untuk mengasihi; tebarkan senyum bagi semua orang, sebagaimana dikatakan Mother Theresia; jangan membalaskan kejahatan yang mereka perbuat. Jika kita membalasnya dengan membunuh dia, isteri atau putra/inya mungkin akan membunuh kita. Keluarga kita juga akan membalaskannya, sehingga dendam menjadi mata rantai kejahatan. Demikian terus dendam akan berkesinambungan. Sebaiknya kita mengasihi musuh, sebab itulah cara terbaik untuk membunuhnya! Jika kita mengasihi musuh, dia akan menjadi teman bagi kita. Maka permusuhan akan lenyap selamanya. Mengasihi musuh akan memiliki banyak teman: dari keluarganya: isterinya, anak-anaknya, sanak keluarganya dan teman-temannya juga. Berteman dengan satu orang akan mendapatkan banyak teman. Bermusuhan dengan satu orang akan mendapat banyak musuh. Yang 'rugi' diri kita, jika kita membenci musuh kita.
5. Dalam bukunya ‘beneath the cross of Jesus’, A. Leonard Griffith bercerita tentang seorang pelajar pertukaran dari Korea di University of Pennsylvania yang dipukul oleh sebelas orang anak remaja dengan pipa besi hingga mati, sesaat setelah selesai mengeposkan surat kepada orang tuanya. Seluruh penduduk Philadelphia meneriakkan balas dendam, jaksa wilayah berencana menjatuhkan hukuman mati bagi terdakwa. Datanglah surat yang ditandatangani orangtua korban dan 20 orang sanak saudara yang mengatakan bahwa rapat keluarga memutuskan untuk membuat petisi bahwa tindakan terbaik dari hukum mereka adalah membimbing anak itu setelah keluar penjara dengan memberi pendidikan, agama, pemberdayaan dan kemasyarakatan. Niat tulus ini dinyatakan dengan menyisihkan sebahagaian uang mereka untuk biaya pendidikan mereka. Saat tidak membalskan rasa sakit hati, kita akan dipindahkan dari posisi korban menjadi posisi pemenang.
6. Ay 17 ini menunjukkan bahwa hukum Musa tidak hanya dihubungkan dengan sikap/tindakan dari luar diri kita, tapi juga dalam hati kita. Bukan hanya yang kelihatan, di mana kita tersenyum ketika kita bertemu dengan orang yang kita benci, tapi menaruh dendam dalam hati. Maksud firman ini adalah, bahwa bukan hanya di luar kelihatan kita manis, tapi di dalam hatipun jangan merancang yang jahat bagi musuh kita, sebaliknya tetap mengsihi dan mendoakannya.
7. cara kedua adalah menegor dengan terus terang. Istilah Tuhan Yesus, katakan ya kalau ya; tidak kalau tidak, lebih dari itu berasal dari si iblis. Kejahatan bukan dbiarkan, tapi harus ditegur degan harapan yang tulus untuk perubahan.
8. Mendoakan, mengasihi dan merancang yang baik untuk orang yang menyakiti kita adalah hal yang sulit. Bahkan pemahaman Yahudi dalam Matius 5, 43 dikatakan, ‘kasihi sesamamu, bencilah musuhmu’. Itu sikap alamiah dari manusia. Hanya menjadi perenungan bagi kita; ‘apakah perbedaan kita sebagai orang percaya, dan orang yang diselamatkan, dibandingkan dengan mereka yang belum menerima kasih karunia Tuhan Yesus?’
9. Memahami kasih Tuhan yang agung maka, kita terpanggil supaya kita tidak menaruh dendam atau membenci orang yang menyakiti kita, sebaliknya, akan mendoakan dan menegurnya secara terus terang, sehingga sikap kita tidak mendatangkan dosa bagi kita. Banyak hal-hal yang kurang baik yang kita pikirkan membuat kita jatuh dalam dosa, tetapi ajaran Musa menganjurkankan supaya pikiran kita tentang diri kita dalam hubungan dengan sesama, tidak mendatangkan dosa. Ay.17 ini menganjurkan agar kita menegur (memarahi) dengan tulus untuk kebaikannya bukan mempermalukan, itu sebabnya Yesus pernah berkata, jika ada yang kedapatan melakukan kesalahan, panggil dia bicara empat mata, kalau dia menolak, panggil satu saksi, jika masih bertahan dalam kesalahannya baru dihadapan semua jemaat. Artinya, menegur/menasihati tidak pernah bertujuan menghancurkan atau mempermalukan, menasihati tanpa menyimpan sakit hati. Artinya, teguran kita bertujuan membangun kehidupan orang yang menyakiti kita supaya tidak jatuh. Dalam keluaran 23,5 bahkan jika keledai kau temukan jatuh karena beban berat, angkatlah dia. Apalagi manusia?
10. Apapun sikap jahat orang terhadap kita, jangan pernah menaruh dendam atau merancang pembalasan, tapi kasihilah dia seperti dirimu sendiri. Dalam Matius 5,44 lebih luas lagi, bukan hanya sesama kita -yang dekat dengan kita, seide, semarga, atau sekelompok dengan kita- yang perlu dikasihi, tapi juga di luar dari kelompok, yang berbeda bahkan yang membenci dan memusuhi kita harus dikasihi. Orang yang memfitnah, menjelek-jelekkan sekalipun harus kita kasihi.
11. Mengapa kita harus mengasihi? Alasan kita mengasihi sesama seperti diri sendiri adalah:
• Bila kita melakukan kesalahan, sangat mudah memaafkan diri kita dari kesalahan itu, sebagaimana keinginan kita untuk diri kita, demikianlah orang lain berkeinginan untuk dirinya, maka semudah kita memaafkan diri kita, demikianlah kita memaafkan diri orang lain, sehingga kenyamanan yang kita rasa dapat dirasakan orang lain.
• Hidup kita adalah hidup yang dikasihi oleh darah Yesus Kristus. Kita tidak akan memahami kasih yang kita terima sebelum kita pernah mengasihi orang lain. Suatu hari seorang anak berusaha menyelamatkan ayah-ibunya yang terkurung di rumahnya yang terbakar. Si anak tidak berhasil, ayah dan ibunya meninggal termakan api. Dia menyesali ketidakmampuannya dengan mengurung diri dan membiarkan wajahnya yang termakan api tidak dioperasi. Dia tidak mau menemui istri yang mengasihinya karena dia merasa bahwa wajahnya yang buruk akan mempengaruhi istrinya dalam mengasihinya. Sampai suatu hari istrinya menemui seorang ahli bedah dan meminta kepada dokter itu agar merusak wajahnya untuk bisa bertemu dengan suaminya. Dokter itu menolak, tapi pergi menemui suaminya dan memintanya untuk membuka pintu. Suami itu menolak untuk bertemu dengan siapapun. Lalu sang dokter menceritakan permintaan istrinya untuk merusak wajahnya supaya dia diterima. Mendengar itu, suaminya tergerak dan segera membuka pintu. Dia juga mau dibedah, wajahnya bersih karena cinta istrinya. Demikianlah kasih Yesus pada kita, dia mau menyerahkan nyawanya, merusak diri untuk bertemu dengan umatNya, supaya kita dibersihkan dari dosa.
• Jika hidup kita penuh kasih, tindakan kita ingin membangun kehidupan yang baik, tentu hidup kita menjadi hidup yang berkenan di hadapan Allah. Hidup seorang yang berkenan di hadapan Tuhan, akan menerima sukacita karena hidup yang benar, jujur, penuh kasih akan merasa nyaman menjalani kehidupan, bahkan orang yang memusuhinyapun diperdamaikan oleh Allah padanya. (Amsal 16,7).
12. Kasih mengubah banyak hal yang tidak dapat dijangkau oleh pikiran dan kekuatan manusia. Kasih penuh perdamaian, membuat kita terbuka pada semua orang, menyadarkan kita akan dosa kita, sehingga kita mau memaafkan kekurangan orang lain. Kasih mendewasakan diri dalam bertindak, sehingga tidak membalas yang jahat dengan jahat, sebaliknya, membalaskan kejahatan dengan kebaikan, memberi pipi kanan, ketika pipi kiri ditampar, mendoakan orang yang merancang kejahatan bagi kita dan mengasihi musuh kita seperti kita mengasihi sesama kita.
13. Yesus mengubah tafsiran oarang Farisi yang mengatakan ‘membenci musuh’. Dengan mengubah nilai spritual pengikutnya ketika mengatakan kebalikan tafsiran Farisi dalam Mat 5,43 menjadi kasihilah musuhmu (44). Khotbah di bukit ini menekankan bahwa hanya Allah yang berhak menghakimi, membalas kejahatan yang kita lakukan, sebab Dia lah Allah yang mengenal semua ciptaanNya. Kata ‘Akulah Allah’ dalam ay 16 & 18 menunjukkan bahwa Dia lah satu-satunya Allah yang mengenal ciptaanNya, Dia yang tahu apa yang perlu bagi ciptaanNya dan hanya Tuhanlah, Tuhan semua bangsa yang menunjukkan jalan keselamatan bagi ciptaanNya, supaya semua beroleh selamat, tidak ada yang binasa oleh sikap alami manusia, dengan membalas kejahatan dengan yang jahat. Pernyataan Allah adalah jalan masuk manusia pada kekekalan.

Sabtu, 31 Juli 2010

Matius 7,1-5

“Jangan Menghakimi supaya Kamu tidak Dihakimi”
1.‘Kenalilah dirimu!’, Demikian Socrates mengatakan untuk lebh cerdas mengenal diri sendiri dalam menjalani hidup. Dengan mengenal diri, kita akan lebih hati-hati bersikap, cerdas bertindak dan tidak memandang orang lebih rendah dari kita. Rasul Paulus dalam Roma 12,3-5 mengatakan, kenali dirimu, dalam kerangka memakai talenta yang kita miliki untuk kebaikan sesama, untuk pekerjaan pelayanan Tuhan. Maka apa yang baik dalam diri kita, yang sumbernya dari Tuhan hendaklah digunakan untuk kebaikan, bukan menindas, melemahkan yang lain. Dalam pendahuluan khotbah (Mzm 49, 7-9), bertindak adil untuk semua orang, tidak menghina dan menghakimi kelemahan mereka (cth miskin).

Ada seorang Ratu yang selalu melihat dirinya dalam cermin. Setiap kali dia bercermin, dia akan bertanya pada cermin itu:”Siapakah perempuan paling cantik di dunia ini?’ cermin yang punya kekuatan menjawab, bahwa ‘sang ratu’ yang paling cantik. Suatu ketika, cermin itu melihat putri tiri sang ratu, dan ketika ratu bertanya siapa perempuan yang paling cantik, cermin itu berkata jujur, bahwa putri tiri ratu perempuan paling cantik di dunia. Mendengar itu, ratu marah, dia memecah cermin itu karena tidak berpihak padanya.

Itulah manusia, selalu memakai apa yang dia pikirkan dan menjadikan dirinya standart kebenaran dalam menilai orang lain. Sifat yang merasa diri lebih baik dan benar akan melihat yang lain salah dan jelek. Sikap ini bisa merusak dan mengacaukan banyak orang.

Dalam perikope ini, khotbah di bukit (5-7), ada banyak manusia dari berbagai kalangan, imam, pedagang, pegawai, orang tua, guru dll. Dalam perbedaan status social dari kelompok pendengar, tentu bisa terjadi saling merasa diri benar dan melihat kelemahan orang lain. Imam/orang Parisi melihat dirinya lebih baik dari pedagang atau pekerja lainnya, sedangkan yang lain melihat mereka melihat imam/Parisi munafik, tidak hidup sesuai pekerjaan mereka. Maka terjadilah pertikaian, saling menghakimi sesuai dengan pikiran dan standart kebenaran mereka. Yesus menegaskan dalam perikope ini, supaya satu dengan lain tidak saling menghakimi, tidak melihat kesalahan orang lain untuk menjatuhkan mereka, tapi kenalilah diri sendiri, bertindak sesuai standart kekristenan, yaitu dipandu oleh Firman Tuhan.

Penilaian yang baik dibutuhkan tidak hanya dalam memahami orang, namun juga dalam menghadapi keputusan-keputusan yang sering kali menuntun kita pada atau menjauhkan kita dari Bapa Surgawi kita. Bila orang Kristen saling menghakimi, maka gereja akan terpecah-belah karena saling menghakimi adalah cara Iblis memecah-belah tubuh Kristus. Itulah yang dipahami oleh sebagian orang Kristen.
Hakim adalah pekerjaan mengadili. Bila kita menghakimi orang bisa tidak tepat karena itu bukan tugas kita dan subjektivitas kita yang muncul karena semua penilaian bermuara pada diri sendiri. Anak saya yang bungsu, ketika berusia 2 tahun, setiap melihat laki-laki dewasa bercelana jeans, akan berkata bahwa itu penjahat. Suatu hari, kami sedang duduk-duduk di mall, tiba-tiba dia berkata, ‘mama, awas penjahat lewat’, saya pucat ketakutan mendengar teriakan anak saya, saya takut pria berkucir dan berjeans itu mendengar. Anak saya sudah punya standart tentang pria dewasa melalui pakaiannya. Demikian lah kita bisa salah menilai seseorang jika kita memakai standart dan kebenaran kita. Oleh karena itu, Yesus meletakkan prinsip dasar dalam ay 1, untuk tidak menghakimi dan memberi prinsip teologia mengenai penghakiman (ay.2).

Ay. 1 “Janganlah kamu menghakimi, supaya tidak dihakimi’. Yesus berpikir bahwa para murid satu sama lain bukan hakim atau pemeriksa yang sesuai standart penghakiman yang benar, oleh karena itu, Yesus mengklarifikasi agar mereka tidak saling menghakimi, tidak menjadi batu sandungan bagi sesama (Rom 14, 10-14; Yakobus 4,11-12). Yesus tidak bermaksud mengatakan bahwa segala sesuatu atau setiap orang dapat diterima tanpa kritik. Dia juga tidak bermaksud bahwa semua orang, baik sebagai orang tua, pemimpin gereja, penguasa, guru atau apapun, salah ketika mereka mengkritik orang yang ada di bawah pemeliharaan mereka. Mengkritik bisa asal dengan keinginan hati yang baik. Maksud Yesus adalah supaya muridNya tidak mengambil pekerjaan Allah, yaitu menghakimi, sebab penghakiman adalah hak Allah. Artinya ketika kita menghakimi orang yang menurut standart kita salah, kita telah merampas hak Allah, mengambil tempat Allah.
Bila kita menghakimi seseorang, maka dalam Ay. 2 dikatakan, dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, itu juga dipakai untuk kita. Mengapa Yesus mengingatkan muridNya untuk tidak saling menghakimi? Karena dengan menghakimi, persoalan tidak selesai. Apa yang dia lakukan, akan terjadi seperti itu padanya. Maka orang tua selalu mengingatkan anak-anaknya melakukan yang baik, karena apa yang kita lakukan akan terjadi juga pada kita. Orang yang masuk dari jendela, akan keluar dari jendela. Saya pernah mendengar cerita, seorang suami meninggalan istrinya tanpa kepastian dan pergi dengan perempuan lain. Ketika dia tua, dia sakit, dia kembali pada istrinya. Istrinya meninggal, tidak ada yang mengurusnya lagi, hatinya sedih atas perlakuan masa lalunya, tapi yang membuatnya paling sedih bukan masalah yang dihadapinya, tetapi karena putri satu-satunya ditinggal pergi suaminya. Seperti yang dia lakukan, terjadi kembali di rumahnya, kepada anaknya. Untuk mengantisipasi kejadian seperti ini, Yesus secara tegas mengingatkan para murid untuk bersikap benar, tidak mengambil tugas Allah dengan menghakimi, sebab penghakiman seperti yang dilakukan akan terjadi padanya.

Memang manusia cenderung melihat kesalahan yang dilakukan orang lain (ay 3). Kesalahan kecil yang dilakukan orang lain, kita umbar, sementara kesalahan besar yang kita lakukan seolah tidak ada apa-apanya. Oleh karena itu, kita perlu bercermin, apakah sikap kita sudah benar. Selumbar (Ingrris ‘speck’ Junani: Karphos: titik) di mata orang lain bisa kita lihat dari jarak jauh (seberang lautan), sementara balok (Inggrik log; plank, Yunani: dokos: kayu yang sangat besar digunakan sebagai penyanggah/penopang dalam pembangunan rumah) yang menutupi mata sendiri tidak dilihat. Yesus menggunakan peribahasa hiperbol untuk menunjukkan bahwa menghakimi seseorang jelas kurang tepat karena semua manusia punya kelemahan dalam versi yang berbeda. Tindakan ini menunjukkan bahwa masalah mengritik orang lain adalah masalah besar dalam hidup manusia, karena kita tidak akan berubah, tetapi berharap orang lain berubah. Dalam ay 3 ini, Yesus meminta murid, supaya jika ada kedapatan berlaku salah, baiklah kita memimpin ke jalan yang benar (Gal 6,1), bukan menghakimi mereka, seolah-olah kita benar, tidak ada kesalahan yang kita lakukan sepanjang hidup kita.

Beberapa orang ada yang munafik ingin memperbaiki orang lain, mengoreksi orang lain, tetapi dirinya sendiri tidak dapat terjamin mengenai kebenaran dan kejujuran. Maka dalam ay 4, dikatakan Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Tugas murid bukan menjadi sensor untuk saudaranya, tetapi memeriksa diri. Pemazmur berkata: ‘selidikilah aku ya Tuhan’, sebab manusia jarang mengkritik dirinya, tetapi mudah mengkritik orang lain.

Orang yang menghakimi saudaranya, menganggap diri benar, disebut sebagai orang munafik (5). Yesus berkata pada orang mereka: ‘Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu,.." Yesus menyuruh supaya lebih dahulu mengeluarkan balok dalam mata sendiri, sehingga penglihatan makin tajam untuk membangun orang lain keluar dari kelemahan mereka menuju ke jalan benar.

Pengajaran ini diberikan Yesus kepada para murid yang mengikutiNya supaya tidak terjadi pengelompokan antar sesama. Yesus hendak membangun persekutuan, kesatuan antar sesama dalam keberagaman, termasuk dalam kelemahan dan kekuatan yang dimiliki seseorang, sebab kerajaan Allah adalah karakter damai.

Selasa, 20 Juli 2010

Mengawali sebuah Perjalanan

21 hari setelah tinggal di Depok, setelah membereskan sekolah anak-anak, setelah menata barang-barang yang sampai hari ini belum tuntas, setelah mulai terjun dalam pelayanan, setelah membuat sketsa rencana masa depan untuk keponakanku Dian, Tuhan membuka jalan, menjawab doa, memberi rejeki lewat usahaku yang sudah mulai berjalan, tapi masih sulit untuk mulai menulis, mengisi blog membayar janji untuk seorang suami yang mengharapkanku bisa menulis khotbah tentang kehidupan Rumah Tangga kristen.

Pagi menjelang siang ini, aku mencoba mengawali, tapi belum menemukan judul, belum mendapat ide untuk boleh menghindangkan santapan rohani yang membangun kehidupan rumah tangga, yang tak seorang pun terlecehkan, yang tak seorang pun tercecer, tapi boleh meneguk kesegaran, memebebaskan beban batin shingga boleh rukun di tengah keluarga oleh perbedaan yang terjadi antar suami istri.

Pagi menjelang siang ini aku ingin memenuhi janjiku tentang hidup suami istri yang takut akan Tuhan, kubuka alkitabku, kubaca Efesus 5, 21 yang berbunyi:"dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus".

Kalimat ini mengawali sebuah perjalan dalam Rumah Tangga Kristen.
Ada seorang suami yang berlatar belakang budaya yang kuat, harus dihormati, kedudukan yang lebih tinggi. Dia ingin hidup dengan seorang istri yang mencintainya, tunduk kepadanya dan selalu mempunyai kedudukan lebih rendah dari suami. Ketika istri menjadi lebih tinggi secara finansial, maka suami mulai merasa tersisih, merasa tidak dihormati dan mulai protes terhadap komunitas, protes kepada Tuhan dengan meninggalkan peribadahan, dengan tidak mengikat diri pada perjanjian kesetiaan dalam suka dan duka.

Dalam benak saya muncul pikiran: "Apakah kesalah seorang istri yang mempunyai pencaharian lebih banyak dari suami?" Apakah itu menganggu sistim rumah tangga? Suami saya berkata, itu menjadi salah ketika istri yang mempunyai uang lebih banyak, mendekti atau menggurui suami karena uangnnya, atau suami yang ingin lebih hebat dari istri tetapi sulit mencari pendapatan yang lebih.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kondisi keuangan yang baik di tengah rumah tangga, persoalan muncul ketika orang yang punya uang tidak dapat menikmati uangnya dengan sukacita, dia membelanjakan uangnya untuk menindas orang lain, dia berfoya-foya kala orang miskin tidak dapat makan. Kekayaan bisa menjadi kutuk bagi orang yang tidak menggunakan dengan benar, tetapi akan menjadi berkat kala kita menggunakannya untuk kebahagian orang lain dan sesama.

Hidup rumah tangga kadang bisa menjadi sulit kala masing-masing anggota rumah tangga berbeda pemahaman tentang uang. Ketika uang membuat posisi berubah, keluarga bisa kacau. Saat istri yang merasa membiayai kehidupan keluarga, maka suami bisa merasa tidak bermakna dan menjauhkan diri dari kelompok atau bahkan menggugat Tuhannya, maka istri dengan kondisi yang lebih baik akan merendahkan diri di dalam takut akan Tuhan, sehingga dia dapat berkarya, berkiprah tapi sekaligus menjadi istri dan ibu yang dihormati dan dikasihi suami dan anak-anaknya. Hanya persoalan sering muncul ketika suami mempunyai rasa minder, rendah diri (bukan rendah hati dalam takut akan Tuhan), maka semua yang baik bisa menjadi kacau, maka untuk memperbaiki kondisi jiwa yang mengalami 'trouble' ini dibutuhkan inisiatif istri untuk selalu bertanya pada suami tentang perjalanan rumah tangga. Hal ini hanya dapat terjadi ketika istri adalah istri yang merendahkan hati dalam takut akan Tuhan, tanpa rasa tertekan, tanpa rasa ditindas dalam melakukannya.

Hai istri hormatilah suamimu dengan takut akan Tuhan, di mana istri hormat dalam kerangka memuliakan Tuhan, bukan memuliakan suami sehingga mau diberlakukan sewenang-wenang, tapi tetap dalam koridor kebenaran, dan suami kasihi istrimu seperti Kristus mengasihi jemaatNya, memberi diri, mengorbankan ego, status sosial demi membangun kehidupan keluarga. Melakuakan kebenaran Firman ini akan mencerdaskan dan mencerahkan cara pikir dan cara pandang suami atau istri menjalan hidup Rumah Tangga.

"Selamat rukun-ribut" (meminjam istilah Bapak Pdt DR Andar Ismail), di tengan suka dan duka Rumah Tangga, Tuhan memberkati dalam membangun jemaat kecil dalam Rumah Tangga Kristen.

Khusus untuk seseorang yang merasa menjadi 'kurang berharga' dalam perjalanan keluarga oleh karena 'sesuatu' yang membatasi hubungan internal suami-istri, 'tetaplah jadi suami yang mengasihi istri, seperti Kristus mengasihi jemaat, tetaplah jadi suami dan ayah yang setia menjalani tugas, sebab Tuhan ada di pihak yang benar'

Semoga......