Sabtu, 12 September 2009

Kisah Para rasul 28,1-10

Memberi Diri untuk Melayani Tuhan dan sesama
1. Hidup yang diombang-ambingkan rupa-rupa penderitaan dan bahaya, tidak menyurutkan orang percaya berharap dan berserah kepada kehendak/ketentuan Tuhan. Seperti Paulus dan mereka yang ada di dalam kapal, dengan bahaya yang mengancam hidup mereka, hingga mereka terdampar di Pulau Malta. Tempat asing dengan penduduk yang belum mengenal Tuhan.
2. Pulau Malta berisi berpenduduk yang ramah dan peduli. Mereka Belum mengenal Allah, tapi cara berpikir mereka yang sederhana memberi kesan bahwa mereka peduli dengan sesama manusia, mereka mau menolong sesamanya. Ketika kapal itu terdampar dan mereka yang ada di papal merasa kedinginan, mereka menyalakan api untuk memberi kehangatan, mereka ditolong bukan di rampok. Padahal bila kita lihat masyarakat kita yang telah mengklaim diri sebagai umat beragama sering sekali membuat orang lain tidak nyaman tinggal dan lewat dari tempat di mana penduduknya telah mengenal Tuhan sebagai penolong dan Tuhan yang peduli.
3. Beberapa tahun lalu, salah seorang dosen saya waktu di S1 mengalami kecelakaan, mobilnya jatuh. Dosen saya itu selamat, tetapi semua barang-barangnya, termasuk kacamatanya raib. Ketika ada diantara kami menyatakan rasa kesalnya terhadap penduduk setempat, sang dosen berkata: ‘justru kalau barang-barang saya tidak hilang, baru saya heran’. Artinya, beragama pun tidak jaminan memberi kita kenyamanan tinggal bersama dengan yang lain. Korban kerusuhan ’98 juga semakin tenderita karena harta mereka juga ikut dijarah. kesempatan sebagian orang mencelakakan orang yang sudah menderita.
4. Kehidupan dan prilaku penduduk Malta ini menjadi catatan positif bagi kita pada masa ini, ketika ada orang yang tidak peduli dengan penderitaan orang lain yang mengalami bencana, ketika ada orang yang mengais rejeki dengan kecelakaan orang lain, tapi mereka tidak mengambil keuntungan di atas penderitaan paulus dan teman-temannya, tapi memberi pertolongan dan kehangatan.
5. Melihat keramahan dan kebaikan penduduk Malta, secara spontan Paulus ikut mengambil ranking untuk di masukkan ke dalam api itu, tapi tiba-tiba ada ular beludak yang kepanasan memagut tangannya. Melihat kejadian itu, penduduk Malta memahami bahwa Paulus adalah seorang pembunuh. Pemikiran sederhana mereka melhat bahwa peristiwa alam yang menimpa Amat manusia merupakan cara Allah menghukum umatNya yang tidak melakukan kehendakNya. Maka ketika ada sesuatu yang membuat Paulus merasa sakit, dipagut ular, itu dipahami sebagai cara Allah memberi hukuman atas keselahan Paulus. Mesk Paulus lolos dari maut di laut, namun tidak dibiarkan dia hidup. Ketika orang Malta memahami Paulus sebagai pembunuh dan lewat alam dia dihukum, tapi Paulus tidak panik, dia tidak menjadi menderita dengan persoalan itu, tapi dengan tenang di mengibaskannya di atas api, dan Paulus tidak tenderita walau ular itu terpaut di tangannya. Ketika penduduk itu memahami bahwa Paulus tenderita dan mati, mereka salah, Paulus tidak mengalami penderitaan, Paulus ada dalam keadaan baik. Seketika itu berubah lah hati mereka, cara pandang mereka terhadap Paulus, mereka memberi nama baru baginya, dia disebut sebagai dewa, karena ular dan ap tidak mencelakakannya.
6. Hubungan baik dengan Allah sering memberi manusia jaminan dan kemenangan. Allah tidak membiarkan hambaNya di permalukan atau bahkan menjadi bahan pergunjingan orang lain. Itu pemahaman orang terhadap Paulus yang selamat darikecelakaan. (dengan tetap tenang, kamu akan menang; Yesaya 30, 15; pengkhotbah 4,6). Itu benar, tapi tidak jaminan bahwa hamba Tuhan tidak mengalami kecelakaan atau terkena dampak dari peristiwa alam. Ketika ada hambaNya atau orang percata tenderita atau mati oleh peristiwa alam, bukan berarti bahwa Tuhan tidak peduli atau mempermalukan hambaNya, tapia da kadang terjadi ‘pembiaran’ Allah atas hidup orang yang percata. Jadi kalau dalam perikope ini Paulus selamat, itu berarti bahwa Tuhan masih punya rencana atas hidupnya untuk memberi diri dan melayani orang lain.
7. Dari peristiwa yang terjadi, ada proses untuk mengenal, serta mengubah persepsi tentang diri seseorang. Dari pemikiran pembunuh menjadi dewa, karena selamat dari maut diyakini adalah pekerjaan dari sesuatu yang transendental. Peristiwa yang mengubah cara pandang.
8. Publius gubernur, pulau itu menyambut mereka memberi penginapan, makan minum selama tiga hari. Paulus tidak hanya bersukacita karena dia diselamatkan dari maut dan kecelakaan, tapi juga atas orang-orang yang baik, yang menjamu dan memberinya penginapan. Kebaikan yang diterima dari penduduk bahkan dari Gubernur mereka adalah sikap Allah yang terwujud di tengah dunia yang belum mengenalNya. Lalu bagaimanakah sikap orang yang sudah percaya padaNya?
9. Paulus sebagai hamba Allah tergerak mengatasi penderitaan dan pergumulan gubernur Publius dan penduduk Malta. Paulus menyembuhkan penyakit ayah gubernu Publius dengan berdoa, penumpangan tangan dan tindakan medis. Paulus tergerak untuk melayani penduduk Malta dengan mengajarkan iman kristen kepada mereka. Dia memberitakan Tuhan sang Tabib, dia berdoa, dia juga berbuat untuk kehidupan penduduk itu.
10. Hidup yang diselamatkan adalah hidup yang melayani dan memberi diri untuk orang lain. Paulus yang mengalami kebaikan Tuhan dalam hidupnya selalu mendorong dia untuk terus berlaku baik di tengah kehidupannya. Maka panggilan bagi kita sebagai Amat percata, sebagai orang menerima keselamatan dan dikeluarkan dari alam maut adalah untuk terus melayani dan berlaku baik bagi semua orang, tidak dibatasi oleh tembok-tembok gereja, tapi melampaui tembok-tembok sehingga keluar jauh dari diri kita. Paulus tidak hanya menerima berkat pemeliharaan, tapi dia mengubah diri menjadi berkat dalam memelihara kehidupan umat Tuhan di bumi.
11. Kesadaran aka kebikan Tuhan akan mengarahkan kita hidup baik dan benar, akan membuat hati berespon baik dan mensyukuri kerja Tuhan yang memelihara hidup kita. Yesus yang memberi diri, berkorban untuk hidup manusia, adalah gambaran bagi kita supaya kita memberi respon yang sama di mana kita mau melayaniNya dengan berbuat baik untuk kehidupan umat manusia.
12. Perempuan sarfat (epistel), yang secara logika tidak mampu memberi makan hambaNya, tapi mendorong kita untuk menyatakan kerajaan Allah di bumi bahwa dalam kelemahan kita sekali pun, jika kita mau dipakai Tuhan dan menyerahkan pekerjaan kita pada ketentuan Tuhan, maka semua dapat kita lakukan. Dari hidup yang biasa, di dalam tangan Tuhan, kita bisa menjadi luar biasa.
13. Artinya memberitakan injil selalu membawa slalom secara holistik dalam kehidupan manusia. Dalam tahun diakonia ini, kita terpanggil untuk membuahkan buah yang lebat, perbuatan yang menghasilkan buah yang dapat dinikmati banyak orang. Paulus yang selamat dari bahaya maut, tidak berpuas diri dengan menjaga hidupnya, tetapi dia berespon atas keselamatan itu untuk menyelamatkan orang lain. Itulah injil dinyatakan di dunia, karena tidak smua orang dapat membaca alkitab kita, tapi sikap hidup kita yang mau memberi diri dan melayani orang lain, adalah injil yang terbuka yang dapat dibaca semua orang. Selamat melayani, Tuhan memberkati.

Sabtu, 05 September 2009

Yohanes 17, 14-23

Satu di dalam Tuhan
1. Antonio De Mello, mencatat sebuah metafora yang dikisahkan oleh Alexander Plutarkus, sbb: Alexander Agung bertemu dengan Filsuf Diognes yang sedang memperhatikan setumpuk tulang manusia. Alexander Agung bertanya ‘apa yang sedang kau amati?’ ‘Sesuatu yang tidak bisa saya temukan’ jawab sang filsuf. ‘Apa itu?’ ‘perbedaan antara tulang-tulang ayahmu dengan tulang-tulang budak ayahmu’. Metáfora ini adalah gambaran tentang kesamaan manusia secara penciptaan fisik bahwa tidak dapat dibedakan, meskipun dia raja terhadap budaknya.
2. Bagaimana memahami kesatuan? Dimulai dari konsepsi diri. ‘Menurut saya, siapakah seseorang itu bagi saya?’ Jika seseorang kita sebut sebagai teman, maka kita akan memperlakukannya sebagai teman, atau saudara atau budak. Sikap kita terhadap seseorang, tergantung pada sikap itulah kita memperlakukannya. Didalamnya juga boleh terjadi pertukaran kepentingan. Kepentingan apa yang kita punya untuk ditukar dengan orang lain, sehingga kita menyebut dia sebagai ‘seseorang’. Maka untuk menciptakan kesatuan/kerukunan hidup tergantung pada konsep kita mengenai orang lain.
3. Kesatuan atau kerukunan (rukun=tiang dasar: Bahasa Arab) merupakan dasar persekutuan umat manusia di tengah kehidupan. Bagi masyarakat Jawa kerukunan berarti sekata, mufakat, damai. Kata ini melambangkan sikap hidup yang mau membuang keinginan untuk menentang atau berkonflik di tengan persekutuan. Keinginan untuk bersekutu secara damai, dan bermufakat untuk mengambil sebuah keputusan. Bila mufakat telah ada, maka jarang ditemukan konflik dalam sebuah persekutuan, itulah yang dianut oleh orang jawa hidup harmoni, inge…inge…, tapi keputusan ada dalam hati. Dihadapan Raja, seorang budak akan berkata inge, tapi pelaksanaan tergantung apa yang telah dianutnya. Penghindaran pada konflik.
4. Tapi menurut Pdt. DR. Eka Darmaputra, bahwa bersatu (rukun) tanpa konflik dapt menghilangkan nilai-nilai kebenaran, itu sebabnya Yesus pun siap berkonflik jika untuk menegakkan kebenaran. Jika nama Allah dipermuliakan, konflik boleh terjadi. Maka bila suatu waktu Gereja mengalami konflik, bukan berarti Roh Tuhan tidak ada di Gereja itu, tetapi gereja sedang menegakkan kebenaran, maka yang membenci kebenaran, yang cinta pada dunia ini akan menolak kebenaran itu, dan menganggap bahwa yang menegakkan kebenaran sebagai sumber kerusuhan. Kadang-kadang dalam tubuh gereja ada konflik mari kita melihat itu sebagai bagi dari pemurnian dan penegakan kebenaran. Artinya boleh berbeda pendapat dalam memahami aturan-atura tertentu, tetapi pikran yang cerah dan hati yang berdamai tetap berdiam dalam diri orang percaya.
5. Dimanakah letak kepengikutan kita sebagai umat percaya pada Tuhan Yesus? Menurut perikope ini bukan pada kekayaan, kemuliaan, tetapi pada kesatuan, atau hidup rukun antar sesame. Dan itulah doa Tuhan Yesus dalam Yoh 17 ini, supaya orang percaya diam dalam FirmanNya bersatu; satu hati, satu suara dalam memuji Tuhan (Rom 15,6).
6. Kesatuan adalah hal yang sangat baik dalam kehidupan manusia, tetapi sangat sulit untuk bisa bersatu hati seorang terhadap, sebab panggilan jiwa manusia ingin berpisah. Hanya untuk memperbincangkan pakaian seragam pun dalam suatu kumpulan boleh menjadi sumber perpecahan. Ingin seragam, supaya kelihatan bersatu, tapi karena warna atau bahan kain bisa membuat si A dan si B bermusuhan. Itulah sulitnya untuk bersatu, apalagi mempertemukan pikiran dari beberapa orang yang berlatar belakang yang berbeda, tentu akan semakin sulit. Oleh karena itulah Yesus sangat menekankan agar para murid, pengikut Kristus mau bersatu, seperti Bapak dengan Anak, demikianlah hendaknya para murid bersatu di dalam nama Allah, Putra dan Roh Kudus, (ay 21). Penekanan doa Yesus inilah hendaknya kita ingat dalam perjalanan Gereja, supaya mengejar kerukunan dalam hidup bergereja.
7. Ketika Yesus menyampaikan Firman Tuhan pada muridNya, dunia menjadi membenciNya, dunia menolak kebenaran firman itu. Hal ini terjadi karena Yesus bukan dari dunia ini. Dunia tidak dapat menerima firman Tuhan yang bertentangan dengan keinginan dunia ini. Firman Tuhan membawa kedamaian, sukacita dan kebenaran, tapi menghendaki perpecahan, kesukaran dan ketidak-benaran, maka ketika Yesus datang ke dunia, ketika Dia mengabarkan kabar gembira dan perdamaian, maka dunia menjadi benci dan membuat perlawanan, pertentangan yang memecah kesatuan umat manusia. Itu berarti, jika kita memberitakan firman Tuhan, jangan berharap bahwa semua akan menerima dan mau berubah, jangan berharap bahwa kita akan dihargai dengan firman yang kita sampaikan. Jangan-jangan firman yang kita bawa menjadi sumber petaka bagi kita, karena akan ada orang yang memusuhi kita, menfitnah kita, walau untuk yang mau selamat firman itu akan membahagiakan dan membuatnya semakin dicerahkan. Bagi orang percaya Firman itu akan menyenangkan, tapi bagi orang yang tidak percaya akan membencinya.
8. Firman Tuhan seperti cermin, membersihkan; seperti pelita yang menuntun dan seperti pedang. Orang relajar, membaca dan mendengar Firman Tuhan akan nampak dari sikap hidupnya seharí-hari (Yakobus 1,22).
9. Yang menjadi pertanyaan, mengapa dunia ini membenci FirmanNya? Karena firman itu yang adalah Tuhan Yesus tidak berasal dari dunia ini (bnd. Nikomdemus yang lahir kedua kali). Dia bersembunyi untuk bertemu Yesus, karena dunia membenci pertemuan mereka. Dunia ingin semua seperti dunia ini, mencintai ketidakbenaran dan berlaku jahat terhadap semua.
10. Bila dunia ini tidak lagi membenci pemberita Injil, mungkin karena pemberita injil itu pun sudah seperti dunia ini (materialistis, humanistis, hidup seturut dunia atau bermoral dunia). Contoh: kalau statu kelompok mau retreat, biasanya akan dipersiapkan dengan kesatuan iman, dengan puasa dan doa. Berdoa semalam suntuk, mengadakan doa berantai untuk kesuksesan acara ini; kesatuan hati, tempat yang aman dan tidak diganggu, jauh dari kuasa iblis dan pengaruh orang-orang dari kumpulan itu yang suka membuat keonaran. Tapi ada yang tidak begitu matang persiapan, dan tidak begitu serius dan siap secara doa, tapi acara mereka boleh berjalan dengan tenang, di mana retreat mereka jadikan sebagai saat memuaskan hasrat dunia mereka. Seperti pernah terjadi kumpulan kaum Bapak (punguan ama) hendak retreat, mereka berkata ‘parade hian tarum’ (mempersiapkan modal untuk main judi di tempat retreat). Artinya, retreat hanya alasan untuk kumpul-kumpul dan menyenangkan hati di tempat terpencil, dan memakai program gereja untuk brlaku dunia. Tentu kekuatan dunia ini tidak mengganggu mereka, karena mereka sama dengan dunia ini.
11. Tuhan bukan mau menjauhkan muridNya dari dunia ini, atau mengasingkan diri sebagai tanda orang-orang suci, tetapi hendaklah para murid menunjukkan penyertaan Allah sesuai dengan janjiNya yang mengatakan akan menyertai orang yang percata padaNya, bahwa hidup mereka berbeda dari dunia ini. Jangan kita berpikir bahwa orang percata akan mulus hidupnya dalam penyertaan Allah, bukan justru orang percata di tengah dunia akan mengalami kesulitan, kesusahan. Karena itu, sebagai orang percata haru terus esquís dalam hidup tidak kehilangan pengharapan meski banyak yang membenci karena kebenaran yang dipegangnya teguh.
12. Tuhan akan selalu menguduskan dan menguatkan muridNya dalam tugas pelayanan di tengah dunia ini, sehingga tetap teguh dala miman, walau banyak kebencian mengitari hidup para hambaNya. Dengan demikian firman Tuhan tidak akan berhenti diberitakan, dari satu generasi ke generasi berikut, terus berlanjut, sebab tuhan sendiri yang mengutus. Seperti Engkau mengutus Aku, demikianlah Aku mengutus mereka. Utusan Tuhan akan selalu dituntun dan diarahkan dalam pemeberitaan, akan selalu dikuatkan melampaui persoalan (Matius 10, 16; Efesus 5,25-26; Yoh 15,3; Mzm 119, 9; 1 Tes 5,23).
13. Dia menguduskan diriNya dengan menyerahkan hidupNya sendiri di kayu salib, supaya melalui hidup Yesus, menjadi tiruan bagi umatNya yang bekerja dan melayani di dunia ini. Kematian Yesus adalah simbol kekuatan bagi orang percata, bahwa Dia mampu mengalahkan maut dengan kebangkitanNya (Yer 12,3; 1 Korint 1,30).
14. Yesus mendoakan orang percaya dan orang yang akan percaya. Doa ini berarti supaya para murid serius dalam pemberitaan injil sehingga firman Tuhan bergulir terus sampai ke ujung bumi. Disamping itu, jangan kita melihat sisi buruk dari orang lain (the other), bahwa mereka tidak akan percaya kepada Yesus, karena kita masih berharap dari mereka sebagai persekutuan orang yang akan percaya (1 Korint 15,10).
15. Yesus juga berdoa supaya kerukunan/kesatuan orang percaya adalah kesatuan yang diikat kasih Kristus yang diutus Bapak ke dunia ini. Jika manusia bersatu, maka dunia akan tentram, aman sejahtera, tetapi jika manusia tidak bersatu, maka dunia ini pun akan pecah (istilah orang Indonesia dalam merebut kemerdekaan; bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh). Kesatuan dalam kasih melampaui perbedaan, maka bersatu dalam kasih membuat keutuhan selama hidup, tetapi jira dipersatukan kepentingan akan mudah retak. Janganlah kesatuan denominasi menjadi sumber perpecahan umat percaya. Kita akan menemukan jawaban doa Yesus dalam kehidupan orang percaya di dunia ini, di mana umatNya menjalin kesatuan dan persatuan dala miman, kasih dan pengharapan kepada Yesus Kristus, Tuhan kita (Kisah 4,32; Rom 12, 10). Artinya, meskipun ada perbedaan bahkan pertentangan, jangan sampai kebencian berakar dalam diri kita.
16. Kesatuan bukan soal uniform, tetapi bersatu dalam pemikiran demi kemajuan gereja Tuhan, merencanakan kebaikan untuk kehidupan bersama, saling menerima dan mendahului dalam kasih, saling menghirmati dan merendahkan hati. Nilai kesatuan akan hilang bila satu sama lain saling menonjolkan diri dan sok tahu akan semua hal, atau berkeinginan mencoai orang lain dan menghakimi, memberi kesimpulan tentang hidup orang lain. Bersatu satu hati satu suara, tetapi tidak menghilangkan kebenaran (bukan bersatu unuk korupsi atau memusuhi orang lain).
17. Dampak dari kesatuan yang dibangun di dasar iman kepada Yesus adalah keindahan dan hidup rukun dengan sesama. Semoga kasih Tuhan membangun persekutuan yang benar di gerejaNya, dan kita sebagai tubuh Krisyus boleh mengembangkan kasihNya dalam membangun hidup bersama dengan orang lain.

Sabtu, 29 Agustus 2009

Kejadian 17, 15-27

“Janji Allah”
1. Identitas baru yang diberikan Allah kepada istri Abraham, Sarai menjadi Sara, adalah suatu janji bahwa dia akan menjadi ibu bangsa-bangsa, dari keturunannya akan muncul raja-raja bangsa-bangsa. Itulah janji Allah bagi Abraham dan istrinya Sara. Janji itu merupakan lelucon bagi Abraham, dia tertawa; mungkinkah di usianya yang ke-99 dengan seorang istri berusia 90 tahun dapat melahirkan seorang anak?
2. Allah bukanlah manusia sehingga Dia berbohong, itu berarti janji Allah adalah ya dan amin, sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil (Luk 1,37). Namun pikiran manusia sering sulit menerima janji dan cara kerja Allah, sebagaimana Abraham yang mengandalkan pikirannya. Dia berpikir bahwa usia subur seorang perempuan maksimal 50 tahun, maka janji Allah menjadi hal yang lucu baginya, dan dia kurang menyakini apa yang dikatakan Tuhan tentang Sarai menjadi Sara.
3. Ketidakpercayaan Abraham menyebabkan dia memohon agar Ismail diperkenankan di hadapanNya, tetapi Tuhan mengulang bukan Ismail, tapi seorang anak yang lahir dari Sara dan akan diberi dia nama Ishak. Tentang Ismail anak Hagar, hambanya yang dijadikan sebagai gundik, Tuhan akan memberkati dan memberi keturunan yang banyak baginya, serta menjadikan bangsa yang besar di mana akan berdiri 12 raja dari keturunannya, karena dia bukan anak perjanjian, tapi anak yang lahir atas kehendak manusia, anak perjanjian adalah Ishak, karena kepada Ishak yang akan lahir pada tahun depan lah Allah membuat perjanjian selama-lamanya. Dialah anak yang dijanjikan (Gal 4, 22-28).
4. Pengulangan janji Allah membuat Abraham mengubah pikiran, dia mengaminkan janji itu, sehingga melaksanakan sunat baginya, Ismail, dan semua laki-laki yang ada di rumahnya, yang dibeli dan lahir di rumahnya, setelah Allah naik meninggalkan Abraham. Sunat adalah lambang perjanjian umat Allah.
5. Bagaimanakah kita merespon janji Allah dalam hidup kita? Apakah kita mengandalakan pikiran kita, jika janji itu bertentangan dengan ilmu pengetahuan, dengan pemahaman kita atau mungkin karena tidak sesuai dengan keinginan kita? Banyak orang menertawakan janji dan cara kerja Allah dalam hidupnya, seolah-olah apa yang dikatakan Tuhan adalah lelucon, sesuatu yang tidak masuk akal, sehingga terkadang kita sulit menerima dan mengaminkan janji Allah dalam hidup kita.
6. Saya sering mendengar orang melihat sesuatu dan berkata bahwa tidak mungkin dia bisa memiliki barang tersebut. Jika saya katakana bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, dia akan menentang, bukan mengaminkan kekuatan dan kemampuan Tuhan mengatasi pikiran dan kemampuan kita. Pikiran kita telah mengkonsepkan Allah sebatas yang dapat kita lakukan tentang kehidupan kita, padahal Allah jauh melebihi apa yang kita pikirkan, apa yang kita kotakkan tentang Allah. Dan satu hal yang harus kita ingat, bahwa ketidakpercayaan manusia, tidak membatalkan perjanjian yang sudah Allah Firmankan.
7. Menertawakan Firman adalah penyangkalan atas kuasa Firman itu, maka dampak dari ketidakyakinan akan janji yang telah dikatakan adalah ketidak sejahteraan. Bila kita pelajari lebih dalam lagi maka kita akan melihat bagaimana Hagar menertawai Sara yang melahirkan pada usia tua, dan bagaimana Ismail mengolok-olok Ishak yang kecil.
8. Firman Tuhan mengajak kita untuk percaya penuh pada janji Tuhan,walaupun agak ‘lama’ janji itu diwujudkan dari yang kita harapkan. Janji Tuhan adalah ya dan amin, maka ketika Tuhan berfirman, kita hanya percaya dan menunggu semua janji itu, karena Tuhan berkarya tepat pada waktunya. Merancang masa depan yang baik bagi kita, maka jangan andalkan pikiranmu tentang masa depanmu, percayalah bahwa Tuhan tidak manusia yang mau berbohong. Allah berjanji, mari kira meraih janji itu dengan iman dan perjuangan. Amin

Kamis, 27 Agustus 2009

Ayah..... 6

Duka yang beruntun. Diawali dengan meninggalnya kekasih hatiku, ayah, St. A.B. Tambunan, pada 29 Mei 2009 lalu, sebulan kemudian meninggal juga, menantu paman (tulang) ayah, Pdt Dr. A. Munthe (mantan Ephorus GKPS), dilanjutkan dengan meninggalnya istri pamannya (nantulang ayah), Ny. Pdt. DR. A. Lumbantobing br sianipar (Mantas Bishop GKPI) pada awal agustus 2009 lalu, dan kemarin Inangbaju (tante) ayah, Bidan Lienj br Lumbantobing (mantan kepala bidan RSU Tarutung) meninggal dunia, yang esok hari akan dikebumikan di pemakaman keluarga di Tarutung.
Kejadian yang menimpa keluarga besar Lumbantobing dalam kurun waktu tiga bulan ini sangat memilukan hati, saya tidak tahu apa rencana Tuhan atas peristiwa duka ini, tapi saya tahu, walau jalan Tuhan tidak terselami manusia, tetapi Dia punya rencana atas setiap peristiwa dalam kehidupan manusia.

Tuhan sungguh amat baik, Dia memanggil pulang insan yang dikasihinya dalam damai sejahtera, tanpa menjadikan beban bagi umat lain. Mereka meninggal dalam damai, yang dalam sebuah keyakinan iman, dapat kusebut; meninggal di dalam Nama Tuhan Yesus yang mereka percayai

Selamat jalan orang-orang terkasih, pergilah, ke rumah bapa yang mengasihi hidupmu dalam damai.

2 Timoteus 4:7 : “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman”.

Sabtu, 22 Agustus 2009

Mazmur 133

“Hidup yang rukun”

1. Mzm 133 merupakan nyanyian ziarah Daud. Inilah syair tentang kerukunan kekeluargaan dari umat Allah. Pokok ini dinampakkan dalam peristiwa berkumpulnya bangsa yang terpisah-pisah pada pesta ziarah.
2. Mazmur ini dinyanyikan untuk mengembangkan kebersamaan, kesetaraan dan solidaritas antar umat manusia. Melalui nyanyian ziarah ini, setiap umat diingatkan untuk hidup secara rukun dengan semua orang, dengan keinginan untuk berbagi, menyetarakan pendapat, ide dan pendapatan.
3. Dalam mazmur kebijaksanaan ini kerukunan antar saudara dikiaskan dengan minyak dan embun yang menyegarkan dan disamakan dengan berkat. Seorang Profesor di UGM yang kebetulan orang Batak pernah berkata, bahwa orang Batak yang dibulang-bulangi (dihormati) di negara ini adalah orang yang mempunyai kekerabata, persaudaraa (parhahamarangiaon) yang akrab, karib dan saling mendukung. Beliau mengibaratkan keluarga besarnya yang tidak maju dalam pendidikan, kekayaan dan jabatan ketika bapak mereka bertengkar dengan saudara-saudaranya; begitu keluarga itu berdamai, maka keturunan dari semua keluarga besar itu mengalami kemajuan yang luar biasa, baik dalam pendidikan, jabatan dan harta. Artinya, kerukunan mempengaruhi cara pandang orang dalam memaknai hidup, sekaligus berdampak baik bagi kemajuannya menjalani hidup.
4. Pemazmur menggambarkan berkat-berkat kesatuan dalam 2 cara, yaitu minyak untuk penahbisan para imam, yang bersimbol kesukaaan dan terikat dengan pengertian keharuman (kid 1,3) dan ketentraman (Yes1,6). Minyak pengurapan imam adalah seseuatu yang menyucikan (kel.30,22-33).
5. Alangkah baik dan indahnya....Kerukunan dalam marga selalu dipuji, karena akan mendatangkan berkat bagi marga tersebut. Kerukunan menyebabkan tidak terjadi perselisihan karena memperebutkan tanah dan ternak, karena orang yang rukun akan mengerjakannya secara bersama, bukan membagi. Itu sebabnya alam tradisi Jahudi, apabila lelaki bersaudara tinggal bersama dan kakaknya meninggal dunia tanpa meninggalkan anak laki-laki, maka saudara muda, wajib kawin ipar dan mengambil istri saudaranya untuk meneruskan nama dari kakaknya, sekaligus untuk memperhatikan kehidupan kakak iparnya.
6. Keindahan dari persaudaraan itu tidak hanya dalam bentuk sukacita, tetapi keikut-sertaan dalam setiap penderitaan antar saudara. (adong do akrab jala denggan parhahamaranggion, alai dang olo mersiurupan). Sebagaimana digambarkan Yesus tentang orang Samaria yang baik hati, yang peduli dan ambil bagian dalam penderitaan orang yang dirampok di tengah jalan. Dia meluangkan waktu menolong, memberi uang membiayai, bahkan menambah biaya jika ternyata kurang demi kesembuhan orang yang tidak dikenalnya, tapi dilihat sebagai sesamanya. ( Luk 10, 25-37: Epistel). Perbuatan orang samaria ini menjadi teladan bagi kita bersaudara dalam keluarga, punguan marga, gereja dan masyarakat di negara plural ini, karena hubungan yang baik pasti menyegarkan dan mendatangkan rasa nyaman dan sejuk antar saudara.
7. Di Timur Tengah kuno, minyak yang dicampur dengan rempah-rempah dan wangi dipakai untuk melicinkan dan menguatkan rambut serta memelihara kulit; seorang tamu disambut dengan menuangkan minyak di atas kepala atau diminyaki kakinya, sebagai tanda penghormatan. (bnd. Kaki Yesus yang diminyaki perempuan samaria dengan rambutnya.
8. Seperti minyak di kepala, mengalir ke janggut Harun, (dan para imam keturunannya) yang berjanggut panjang (Im. 21,5) mencerminkan pengertian ke arah imamat. Minyak adalah lambang penobatan dan janggut adalah lambang panjang umur, maka hidup yang rukun akan dinobatkan menjadi anak Allah, dan diberi kesegaran, kenyamanan, seperti kulit segar yang terpelihara dan umur panjang. Kelimpahan minyak urapan itu mengutarakan betapa Tuhan berlimpah-limpah memberkati dan menguduskan umatNya melalui perskutuan mereka.
9. berkat kedua: kesatuan digambarkan seperti embun yang menyegarkan, mengendap di gunung Hermon dan turun ke gunung Sion. Pemahaman utama ialah, embun mengungkapkan kesegaran ilahi; karunia Allah, yaitu kehidupan dan buah-buahnya (mzm 110,3), tapi pengaitan gunung Hermon (di kerajaan utara) dengan Sion di sebalah selatan menunjukkan bahwa Allah memberikan karuniaNya kepada umatNya apabila mereka berada dalam persekutuan. Turunnya embun Hermon ke Sion merupakan muzijat, dan persekutuan adalah mijizat anugerah ilahi (Ef 2, 11-22) di mana berkat pribadi saling dibagikan untuk keberuntungan bersama. Persekutuan dalam ay 3 inilah yang Allah senang memberkatinya dan itu menjadi bukti pemilikan kehidupan untuk selama-lamanya (bnd. 1 Yoh 3,14).
10. Embun yang turun dari gunung Hermon ke gunung Sion adalah kiasan tentang pemberian hidup yang baik. Secara geografis, Gunung Hermon (9100 kaki tingginya dan penuh salju) terletak di Libanon atau Utaranya Palestina, sedangkan Gunung Sion (gunung yang kering) terletak di selatan. Itu berarti, tidak mungkin embun dari gunung Hermon berhembus ke gunung Sion. Itu merupakan kiasan. Tetapi kalaun embun di gunung hermon berhembus ke gunung yang kering akan memungkinkan ladang dan pohon berbuah baik. Jadi embun menggambarkan sumber kehidupan. Jadi pemazmur hendak mengatakan hidup yang rukun bagaikan embun yang mendatangkan kehidupan yang baik. Kota Sion sebagai tempat kehadiran Tuhan menjadi tempat pelimpahan berkat Tuhan, yaitu hidup selama-lamanya.
11. Hidup rukun merupakan visi Tuhan bagi umatNya. Keharmonisan bagi persaudaraan menjadi pendorong dalam hidup rukun. Perbedaan identitas dan karakter bukan menjadi penghalang untuk hidup rukun, sebaliknya kesamaan identitas dan karakter tidak menjadi faktor mutlak terjaminnya kerukunan. Kita mempunyai karakter dan identitas yang berbeda karena pengaruh latar belakang pendidikan, sosial ekonomi, lingkungan dan genetika. Namun perbedaan tersebut tidak dapat menghalangi kerukunan kita, karena Yesus telah hadir untuk mempersatukan kita dalam darahNya seperti bacaan Firman Tuhan yang tertulis dalam Yohanes 17, di mana Yesus mengajarkan murid-muridNya agar:
• Mengasihi musush dan berbuat baik kepada yang membenci kita (Luk 6, 27-38)
• Merangkul orang yang tersingkir, bukan ikut menyingkirkan orang yang dibenci oleh satu kelompok
• Tidak berburuk sangka dan menghakimi orang lain (Luk 6, 7).
12. Tiga hal di atas dapat membantu kita menciptakan kerukunan di tengah hidup kita, baik dalam RT, persekutuan dam lingkungan masyarakat di mana kita tinggal dan bekerja. Oleh karena itu kita perlu menumbuhkan gaya hidup jemaat kristen, yaitu hidup yang inklusif, menghargai perbedaan masing-masing orang, koorporatif, mengakui kesalahan dan memuji apa yang benar, bersikap adil dan menjungjung perdamaian

Kamis, 20 Agustus 2009

LOGOTERAPI

Istilah ini saya ambil dari dua kata yakni, pertama: kata Logos (Yunani: Firman = meaning); suatu kata yang bermakna. Bukan sekedar kata-kata, tapi kata yang berdaya-guna dalam membangun mental dan spritual. Dalam dunia kekristenan logos selalu dipahami sebagai Firman Tuhan yang hidup dan bermakna. Kata kedua ialah therapy: pengobatan jasmani, walau dalam catatan ini saya mau menyorotinya sebagai terapi secara psikis. Maka logoterapi adalah pengobatan jiwa seseorang dengan Firman Tuhan.

Kenapa pemikiran ini ada dalam benak saya. Saya teringat Logoterapi yang diperkenalkan oleh Viktor Frankl, seorang dokter ahli penyakit saraf dan jiwa (neuro-psikiater). Dia seorang bekas korban Nazi Hitler yang ikut ke camp pembantaian. Dia berpikir satu hal, bahwa ketika dia lolos dari camp itu, dia berjanji akan keluar juga dari penderitaan yang dia alaminya. Kalau dia bertahan dengan pengalaman pahitnya, maka dia akan menguahakan bagaimana balas dendam, bagaimana membuat orang lain menderita, sehingga tidak terjadi pertumbuhan. Kesimpulan yang dia ambil, bahwa menjadi hidup bermakna di mulai dari diri sendiri dengan mengeluarkan diri dari penderitaan, dan mau membangun diri dengan melakukan yang baik.

Logoterapi suatu ajaran yang menekankan bahwa dalam keadaan penderitaan sekalipun, hidup kita tetap bermakna, karena adanya dimensi spritual yang membantu kita mengembangkan talenta yang baik yang kita terima. Saya menguji memasukkan ide ini ke pikiran para ibu di persekutuan seksi perempuan gereja kami. Saya mau membangun sebuah jiwa yang disirami firman Tuhan dalam mengatasi persoalan, sehingga bisa keluar dari persoalan masuk ke suatu pemahaman yang terbuka untuk mau berlaku baik. Bagaimana hidup itu bermakna dengan menyadari bahwa sumber-sumber dan potensi itu sering ditekan, terhambat dan diabaikan bahkan terlupakan; tetapi memanfaatkan daya-daya tersebut untuk bangkit kembali dari penderitaan untuk mampu tegak kokoh menghadapi berbagai kendala, dan secara sadar mengembangkan diri untuk meraih kualitas hidup yang lebih bermakna.

Ketika para ibu membahas Matius 5,1-12 : khotbah di Bukit yang terkenal itu, saya melihat para ibu yang tidak mau keluar dari persoalannya, sehingga melihat bahwa delapan kata bahagia di kitab ini, seolah-olah hanya utopia, yang sangat sulit dilakukan dalam keseharian. Dan kalaupun sebuah kenyataan, baiklah orang yang melakukannya.
Pak pendeta membuat sebuah pertanyaan, ‘apakah yg paling sulit dilakukan dari kedelapan perkataan ini?’
Seorang ibu menjawab: ‘membawa damai’ dengan alasan bahwa ketika kita ingin berdamai, ada aja orang yang membuat kita marah, maunya orang lain itu tidak memancing kemarahan kita, sehingga damai bisa terwujud.
Seorang ibu lain berkata: ‘lemah-lembut’: tidak gampang marah atau tidak pernah marah. Seorang yang lemah lembut, tidak marah ketika ia diberlakukan dengan tidak adil, tetapi dia akan marah kalau orang lain mengalami ketidak-adilan. Kata Yunani yang dipakai Yesus untuk kata ini adalah praus:kekang kuda, kadang dapat lari kencang, tapi terkendali. Marah itu bisa, tapi tidak gampang. Ibu ini berkata, belum dianiaya, hanya disinggung sedikit, kita sudah marah luar biasa, tapi kalau teman kita menerima ketidakadilan, kita diam saja. Kalau bisa janganlah gampang marah, tapi marah tepat pada waktunya.
Seorang ibu lain, yang gampang marah berkata, ‘itu benar, kalau kita bilang sesuatu di kumpulan ini jangan terus marah lah’, dengan suara yang marah dan mimik yang marah pula. Disebalah kanan ibu itu meneruskan, ‘perlu kita memperkecil masalah dengan melakukan firman Tuhan supaya kita tidak mudah marah’. Padahal baru beberapa hari lalu dia membuat marah semua anggota punguan, karena dia membuat pengumuman menghadiri suatu acara, tapi dia tidak hadir dan tidak ada berita, di mana dia.


Saya tidak dapat menjelaskan cara bicara dan mimik para ibu itu satu persatu secara detail, tapi ada sesuatu yang tidak tepat dengan apa yang mereka katakan, setiap pernyataan, ada muatan untuk mencela orang lain. Setiap kata-kata diharapkan dilakukan oleh orang lain, bukan dari diri sendiri. Ada masalah pribadi yang dikaitkan dalam Penelahan Alkitab ini, dan memakai Firman Tuhan untuk membela diri dan menyalahkan orang lain. Luar biasa kalau firman menjadi senjata melawan musuh, kalau firman menjadi alat menekan teman yang berbeda ide.


Ketika saya melihat sumbu yang makin pendek, saya menerangkan ide tentang logoterapi, suatu cara memahami firman dengan memulai dari diri sendiri. Ketika orang mencaci kita, kita harus mengingat bahwa kita akan disebut anak-anak Allah karena membawa damai. Itu berarti, bukan orang yang mencaci atau membuat keributan itu yang disebut anak Allah.

Saya usulkan obatilah lukamu, obatilah dendammu, obati sakit hatimu dengan terus belajar firman Tuhan dan mulai melakukannya sedikit demi sedikit, sehingga pada akhirnya kita menjadi terbiasa menerima firman untuk membangun diri kita bukan menuding bahwa firman itu ditujukan pada orang lain.


Pak Pendeta mengambil contoh mengenai tetangga sebelah gereja kami yang sedang merehab rumahnya. Sudah hampir satu bulan. Mereka membiarkan semen, pasir dan debu mengotori lantai tempat menyuci pakaian kami. Ketika tukang cuci protes, dia dibentak pemilik rumah itu, maka setiap hari tukang cuci mempunyai tugas tambahan membersihkan batu-batu kecil, semen, debu, dan pasir yang mengotori lantai. Tadi pagi waktu mereka memasang peralatan tukang untuknaik ke atas di tempat biasa kami menyuci untuk memelester dinding rumahnya, istri saya mempertanyakan: ‘terus kami gimana nyucinya’ mereka marah dan mengacam istri saya dengan mempersoalkan bahwa talang gerejapun sudah melewati batas tanah gereja. Saya melihat ada ketidakadilan terhadap istri saya. Pemilik rumah menjadi tidak bebas di rumah sendiri, dan tanpa permisi memakai bagian rumah kami, kecuali pemberitahuan bahwa mereka mau mengerjakan dinding rumah. Istri saya diperlakukan dengan tidak adil, saya mau marah dan berencana melempar semua tangga-tangganya ke luar dan tidak boleh bekerja dari pekarangan kami. Tapi karena saya mempersiapkan khotbah ini sebelumnya, saya jadi ingat firman Tuhan, saya mencoba bermurah hati dan lemah lembut. Begitu mereka selesai, saya menyapa : ‘loh sudah selesai toh mas, cepat bangat?’ Tukan itu berkata, tadi istrinya ga bolehin kami memasang tangga ini. Lalu saya berkata: ‘Saya tanya, kog cepat selesai dengan hasil yang begitu bagus’ maka mencairlah kebekuan. Mereka tersenyum, dengan sukacita mereka membersihkan semua lantai tempat nyuci dan permisi ketika hendak pulang.
Itulah ide logoterapi yang mau saya tawarkan, mengobati diri dengan firman, di mana firman itu menjadi suatu yang pragmatis, bukan hanya teori. Dan firman itu dilakukan bukan untuk diri sendiri, tetapi firman yang menjadi sikap hidup, di mana cara pandang, cara pikir dan cara kerja kita telah digarami firman Tuhan, sehingga membuat orang lain, bahagia tidak tersandung dengan cara hidup kita.

Ada yang mau mencoba terapi ini? Saya akan memulai dari diri saya, semoga yang lain boleh ikut.....


Selamat hidup baru!

Sabtu, 15 Agustus 2009

Keluaran 13, 11-16

“Dengan Kekuatan TanganNya, Tuhan Memerdekakan UmatNya”
1. !7 Agustus adalah Hari kemerdekaan Indonesia dari penjajajan dan esok kita akan merayakan kemerdekaan yang telah 64 tahun dinikmati oleh negara ini. Kemerdekaan ini diperoleh dengan Rahmat Tuhan yang Maha Esa, itu berarti bahwa kemerdekaan adalah pemberian Tuhan; Kekuatan tangan Tuhan yang membawa bangsa ini keluar dari penjajahan. Apakah yang perlu kita lakukan sebagai bangsa yang menerima rahmat dan kemurahan Tuhan?
2. Bangsa Israel pun menerima kemerdekaan dari Tuhan, dengan keluarnya mereka dari perbudakan Mesir. Kebebasan ini merupakan berkat Tuhan, oleh karena itu mereka bersyukur dengan pemberian Tuhan, dengan pembebasan yang telah mereka nikmati. Berkat yang mereka terima, diwujudkan dengan mengadakan ucapan syukur dengan memberikan persembahana anak sulung dari semua binatang peliharaannya, juga tebusan anak sulung untuk anak Tuhan, di mana semua anak sulung menjadi iman, namun tugas ini sudah menjadi tugas kaum Lewi.
3. Bila Tuhan memberi yang baik padamu, membawa kita keluar dari kesusahan di tengah hidupmu, sebagaimana yang dijanjikanNya padamu (ay.11), maka haruslah kau memberi persembahan syukur, persembahan anak sulung (ay12), di mana semua yang baik, semua yang paling kita cinta kita beri sebagai persembahan kepada Tuhan. Bagian ini hendak mengatakan supaya kita tidak memberi dari sisa-sisa yang kita miliki. Saya pernah mendengar satu keluarga ingin mempersembahkan anaknya yang paling bodoh menjadi pendeta. Kata mereka, saudaranya yang lain pintar, jadi bisa jadi dokter, bisa cari kerja, sayang kalau jadi Pendeta, sayang memberi yang terbaik kepada Allah. Itu sebabnya sulit bagi kita memberi perpuluhan , karena perpulhan selalu diberi di awal bukan dari sisa uang bulanan kita. Mengapa? Karena kita berpikir bahwa hidup kita bersumber dari kekuatan kita sendiri.
4. Tuhan menjelaskan bahwa semua yang kita miliki adalah hasil kebaikan Tuhan memelihara kehidupan kita, sehingga dalam ay 13 dikatakan: Tetapi setiap anak keledai yang lahir terdahulu kau tebuslah dengan seekor domba; atau, jika engkau tidak menebusnya, engkau harus mematahkan batang lehernya. Tetapi mengenai manusia, setiap anak sulung di antara anak-anakmu lelaki, haruslah kautebus. Ada bayaran dari semua yang kita miliki. Dalam arti meski kita mempunyai sesuatu, tapi kita tidak berhak atas semua yang kita miliki, sebab kita hanya tempat penitipan belaka. Bahkan anak kita sendiripun adalah titipan maka, anak sulung harus dibri pada Tuhan, namun Lewi telah menggantikannya, maka dibayar dengan persembahan hidup untuk ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan.
5. Tradisi persembahan syukur bukanlah hanya milik pribadi. Maka ketika Indonesia merdeka, sejarah mencatat, bahwa kemerdekaan itu adalah Rahmat tuhan yang Maha Esa. Catatan ini hendeka meneruskan pemahaman bangsa Indonesia akan kemerdekaan yang diperoleh 64 tahun lalu adalh hasil karya tangan Tuhan. Setiap generasi harus mengetahui ini, bahwa kemerdekaan adalah rahmat Tuhan. Demikianlah maksud Allah terhadap orang israel, setelah mereka masuk ke tanah Kanaan, ke tanah yang dijanjikan Allah bagi mereka, agar memberitahukan mewariskan tradisi persembahan kepada generasi berikut. Dalam ay 14, dikatakan: Dan apabila anakmu akan bertanya kepadamu di kemudian hari: Apakah artinya itu? maka haruslah engkau berkata kepadanya: Dengan kekuatan tangan-Nya TUHAN telah membawa kita keluar dari Mesir, dari rumah perbudakan.
6. Maksud dari ay 14 ini bahwa sesuatu yang terbaik akan diberikan kepada Tuhan. Memberi persembahan beri persembahan terbaik, menjadi sintua, jangan menunggu sampai pensiun dari pekerjaan, berilah dirimu dengan sungguh dipakai Tuhan apakah sebagai sintua, pendeta, pekerja sosial abahkan pekerja pemerintahan, semua berilah yang terbaik. Cara kerja yang baik untuk memeuliakan Tuhan akan menurun dari generasi ke generasi, sehingga kemerdekaan itu mempunyai makna teologis. Dengan demikian pemilikian tanah kanaan akan selalu dipertanggungjawabkan kepada Tuhan. Pemilikan kita atas sesuatu akan kita pertanggungjawabkan kepada Tuhan. Dan tanggung jawab ini yang akan kita jelaskan pada generasi muda kita, mengapa harus bersyukur, emngapa haru memakai semua yang punya untuk emmuliakan Tuhan? Karena tangan Tuhan yang kuatlah yang membawa kita keluar dari perbudakan, dari ketidakmampuan dan keterpurukan kita, sehingga kita menjadi bangsa yang merdeka, dimerdekan dengan kasih Tuhan yang ajaib.
7. Sikap hidup kita yang tahu berterimakasih akan mendidik generasi muda untuk selalu percaya pada Tuhan, percaya pada kekuatan tanganTuhan, bahwa Tuhan sanggup melakukan perkara-perkara besar. Semua komponen bangsa akan mengethui, walaupun dari sudut kekuatan Belanda dan Jepang tidak mungkin dikalahkan Indonesia, tetapi fakta sejarah membuktikan, bahwa kemerdekaan telah kita peroleh, dan itu adalah anugerah Tuhan dengan kekuatan tanganNya.
8. Hal kemerdekaan ini sangat akrab dalam pengalaman orang Israel, sebab ketika Firaun dengan tegar menolak untuk membiarkan mereka pergi, maka TUHAN membunuh semua anak sulung di tanah Mesir, dari anak sulung manusia sampai anak sulung hewan (15a). Alasan inilah menyebabkan mengapa dipersembahkan kepada TUHAN segala binatang jantan yang lahir terdahulu dari kandungan, sedang semua anak sulung di antara anak-anak lelaki kutebus (ay 15b). Ketika kemerdekaan itu kita lihat sebagai pemberian Tuhan, maka kita mengisi kemerdekaan itu dengan sebaik-baiknya, maka kita akan menggunakan kemerdekaan itu untuk memuliakan Tuhan. Sebagai orang meredeka, hendaklah kita mensyukuri kebebasan yang dibawa Tuhan kepada kita, dengan saling mengasihi, tidak saling menggigit atau saling menelan. Janganlah kita mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. (gal 5, 13-15: Epistel). Artinya kemerdekaan yang kita terima akan menjadi cara kita mewujudkan cinta kasih Allah yang membebaskan kita. Jangan sampai ada orang meresa tidak merdeka di alam kemerdekaan yang telah kita terima dari Tuhan, karena kemerdekaan tidak kita wujudkan dnagn saling mengasihi dan melayani seorang terhadap yang lain.
9. Kebaikan kita dalam mengisi kemerdekaan, memberi kesejahterahan pada rakyat akan terus mewujud dalam hidup kita dan anak-anak kita. Tuhan berkata dalam ay.16; Hal itu harus menjadi tanda pada tanganmu dan menjadi lambang di dahimu, sebab dengan kekuatan tangan-Nya TUHAN membawa kita keluar dari Mesir."
10. Jangan melupakan kabikan Tuhan, jangan mengatakan semua hasil kekuatanmu, tapi tuliskanlah di loh hatimu, bahwa tangan kuat Tuhanlah yang membawa kita keluar dari perbudakan dosa, Tuhanlah memerdekakan negara kita dari penjajahan, Tangan Tuhan membuktikan keselamatan kita dalam darah Yesus Kristus di Golgata. Amin.
11. Dirgahayu Indonesia: Merdeka.... Merdeka.... Merdeka.